Setelah 3 bulan lalu wisuda sarjana, gue mulai sering sambat. Bukan kenapa-kenapa ya, tapi kayak gue terlalu nothing to do setelah hampir selama 26 tahun gue hidup, gue kayak dituntut untuk melakukan sesuatu. Walau bukan tuntutan yang gimana-gimana, tapi pola hidupyang kayak robot yang selama hampir seumur hidup ini gue lakuin bikin gue tetiba hilang arah ketika gue nggak lagi di tuntut untuk melakukan sesuatu. Kasarnya, goals kehidupan gue sebagai anak emak-bapak adalah jadi sarjana, tapi setelah sampai ditahap itu, setelah selesai, udahan, terus apa?
Dua minggu lalu, sepulang dari Bandung, gue dan ibu gue melakukan salah satu kegiatan rutin di rumah; kerja bakti besar-besaran. Bagi gue, membersihkan rumah merupakan hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Dari serentet kegiatan itu, melakukan decluttering lemari pakaian adalah hal yang paling nggak gue suka. Bukan karena nggak mau/nggak ikhlas membuang baju-baju tak terpakai dari dalam lemari, tapi justru karena gue already getting sick melakukan decluttering baju. Setiap setengah tahun kami rutin memisahkan baju tak terpakai tapi setiap itu masih saja didapat berkarung-karung pakaian tak terpakai.
Papah dan Mamah gue termasuk orang yang valuing something dari memori nya. Seperti gaun-gaun lucu waktu gue kecil, kebaya/kemeja dari jaman mereka kuliah, kamera lama, buku-buku jadul, belum lagi kalau beresin area rumahnya lain seperti kamar, ruang tamu, dan dapur. Akan semakin banyak barang yang sebetulnya hanya menuh-menuhi lemari tapi barang itu jarang digunakan (atau bahkan belum pernah digunakan sama sekali). Baju, sepatu, tas, alat tulis, tumpukan kaset/dvd, tupperware, kertas bekas, tumpukan koran/majalah, kabel-kabel, dll adalah barang-barang yang paling sering ditemukan saat kita melakukan decluttering. Nggak jarang kita juga bakal ngucap "Aku baru inget aku punya ini loh mah," kayak gitu saking banyaknya barang nya kita punya tapi kenyataannya barang yang kita pakai cuma yang itu-itu aja.
Dari situlah, gue ada intention untuk menerapkan konsep Minimal Living.
Kesannya memang ikut-ikutan doang, tapi selama konsep yang diterapkan itu memang positif dan nggak merugikan, so why not?

Tujuan utama gue mulai melakukan minimal living adalah untuk mengontrol diri agar tidak mudah terobesesi akan sesuatu terutama yang memiliki sifat kebendaan dan ujung dari minimal living yang mulanya diterapkan kepada benda/barang ini bisa membawa kita ke arah meyederhankan pikiran. Seperti yang selama ini gue sadari tentang diri sendiri, gue termasuk orang yang ini kepalanya totally mess, bukan over-thinker tapi terlalu banyak task yang perlu dicerna otak gue ini (bisa merujuk ke posting ini). Nah, menyederhanakan pikiran ini agaknya bisa membuat hidup kita lebih tenang dan bisa fokus pada tujuan-tujuan hidup yang lebih penting dan lebih bermakna. Selain itu cash flow kita juga pasti akan terpengaruh karena akan terhindar dari membeli barang-barang nggak guna. Mind conscious atau self-control itu bukan perkara gampang.
Landasan utama gue bikin tulisan ini adalah;
Orang indonesia masih banyak yg tumbuh besar di
dalam mobil atau kendaraan pribadi. Dimanja dengan yang namanya private space. Jarang yang dari kecil diajarin etika naik kendaraan
umum padahal ini penting banget biar nggak berakhir drama dan trauma. Hasilnya dari bersar dimanja ya gini, kepekaan sosial masih lemah. Nggak heran kalau susah bener Indonesia jadi negara maju -_-
Bisa gue katakan TransJakarta adalah salah satu perusahaan transportasi publik yang memilik sistem terbaik dan aturan tegas yang mengikat penumpangnya. Keberadaan PLB (Petugas Layanan Bus) dalam setiap unit bus membuat TransJakarta memiliki nilai plus dimata gue. Teguran keras tak ragu mereka layangkan untuk penumpang-penumpang egois yang selalu merasa diri bak raja padahal bayar cuma 3500 perak pake subsidi pemprov pulak. Keberadaan PLB tidak hanya memberikan kenyamanan tapi juga keamanan bagi setiap penumpangnya. Gue selalu berharap PT Transportasi Jakarta konsisten dengan aturan-aturan dasar yang mereka pegang dan gue percaya dengan slogan #KiniLebihBaik milik mereka.

Terlepas dari sistem nya yang udah oke punya, agaknya masih ada hal yang gue sayangkan, yaitu; ETIKA PENUMPANG. Banyak banget etika basik yang masih sering di langgar oleh penumpang yang bikin gue gedeg. Balik lagi kayak pernyataan pembuka, masih banyak orang Indonesia yang mindset nya ketutup sama kalimat 'pembeli adalah raja' dimana mereka selalu menuntut hak tapi lupa dengan kewajiban nya.

THIS IS 24.
Barusan abis liat posting di NY Times, ada campaign #ThisIs18 jadinya gue jadi pengen nyobain juga tapi diganti jadi #ThisIs24 mumpung moment nya pas. Alhamdulillah pini sudah 24 tahun kemarin. Honestly, I don’t think that age is the true indicator of whether a person is an adult or not. Walau gitu, kenyataan yang nggak bisa dipungkiri adalah, belum sampe setengah abad, gue udah suka lupa sama umur sendiri, bahkan pernah sampe buka kalkulator cuma buat ngitung umur gue sekarang berapa sebenernya -_-
So, let me tell you what 24 feels to me.
#ThisIs24
Tulisan ini didedikasikan untuk diri
sendiri yang masih jelimet nyusun TA
padahal target hidup selanjutnya udah teriak-teriak minta diraih.

Januari adalah bulannya bermimpi.
Sambil nikmatin musim hujan yang agaknya menuju puncak, mari kilas balik tentang angan-angan yang pernah kita cantutkan dalam benak masing-masing di tahun sebelumnya yang mungkin terlewat atau sengaja dilupakan.
Tadi siang, gue dan adek gue jalan ke CGV D-Mall Depok buat nonton Ralph Breaks The Internet. Gue nggak mau bahas film nya karena percayalah beberapa bulan lagi itu Film bakal ditayangin di tipi. Jadi seperti biasanya aja, tulisan ini nggak lain dan nggak bukan berisi keluh kesah gue pada cara kerja dunia -_-
Semua bermula dari TOILET yang membuat gue jadi mikir panjang sepanjang jalan balik naik commuter dan tentu saja, otak gue yang kayak mau meledak ini perlu dinetralkan dengan cara nyampah di virtual dairy ini.

Apakah hanya gue di dunia ini yang selalu kesel kalau masuk ke toilet umum?
Bukan perkara kebersihannya karena kalau di omong lagi ini bakal jadi super rebek. Ini perkara antre.
Semua ini bermula dari satu obrolan ringan gue dan Ka Anna di bawah naungan tenda Pakde Bakso depan kampus; "Karena nggak ada yang bisa dijadiin panutan,"
Gue mau sharing tentang apa yang terjadi di lingkungan kerja gue. Kontennya, bukan perkara gue nggak bersyukur sama perkerjaan gue saat ini disaat banyak orang diluaran sana yang hilir-mudik mencari kerja. Bukan ingin mengeluh juga, hanya sekedar sharing. Oke?
I was old enough to saying this.
Pengalaman kerja 4 tahun ini gue rasa cukup untuk jadi bahan sharing tentang urusan kerjaan. Ya, walaupun dalam lingkup suatu pabrik keberadaan gue ini tidak terlalu signifikan, tapi semoga tulisan ini bisa dijadikan bahan untuk berfikir dan juga bersyukur.
Gue mau melakukan sebuah pengakuan yang sedikit menakjubkan: I am sick of my work life.

I was old enough to saying this.
Pengalaman kerja 4 tahun ini gue rasa cukup untuk jadi bahan sharing tentang urusan kerjaan. Ya, walaupun dalam lingkup suatu pabrik keberadaan gue ini tidak terlalu signifikan, tapi semoga tulisan ini bisa dijadikan bahan untuk berfikir dan juga bersyukur.
Gue mau melakukan sebuah pengakuan yang sedikit menakjubkan: I am sick of my work life.

a happy ending doesn't exist.
Gue sharing ini karena gue pernah membuat fiksi dimana tokohnya tidak berakhir bersama.
Teman-teman pembaca wattpad menyebut gue "such a cruel writer" hanya karena gue menulis "unbelievable-cruel-tragic story". Mereka ingin gue bertanggung jawab karena membuat dada mereka sesak gegara menangis bagai tsunami. Bahkan ada yang komen pake emoticon -_- doang saking dia keselnya kali sama gue. Ibarat gue kena boikot gitu.
Kebanyakan dari mereka tidak bisa menerima sepenuhnya akhir cerita itu. Kebanyakan dari mereka kecewa.
Disitulah gue sadar akan sesuatu.
Tidak banyak orang yang suka cerita dengan akhir yang tidak sesuai keinginan mereka. Banyak orang yang tanpa mempertimbangkan keseluruhan ceritanya tetap mengatakan sebuah cerita buruk hanya karena berakhir tidak bahagia. Kita pasti punya ekspektasi sendiri saat menonton film atau membaca buku tapi karena ekspektasi itulah kita sering merasa kecewa. Secara psikologi bahkan bisa dijelaskan jika setiap manusia punya keinginan dasar untuk menghindari segala kesakitan. Secara natural, setiap manusia memang punya keinginan untuk tidak terluka. Human nature jika setiap orang ingin melihat dan mengalami hal-hal yang membahagiakan makanya gue nggak heran kalau banyak yang kontra sama tulisan gue itu. Gue juga seperti itu dulu. Gue selalu menginginkan akhir bahagia di semua cerita yang gue baca karena gue percaya nggak ada yang namanya kesukaran abadi. Gue percaya jika setiap pengorbanan akan membuahkan hasil karena kayaknya nggak adil aja kalau setelah melalui segala ujian ending nya tetap aja nggak bahagia.
Tapi, tidakkah itu terlalu naif?
"Shouldn't every story end happily?
However, happiness has its own form, and in human relationships, happiness does not always mean together, right? If this is the ending of this story, I can fully accepted.
This beautifully written story doesn't have to be wrapped up with both characters ending up together and spending the rest of the life time together. It is enough to know that after years, they still hold each other deep inside their hearts. It was still a beautiful love. "
- seseorang meninggalkan komen itu di cerita gue.
That is such a major impactful comment I've get.
Kadang dari cerita yang gue buat sendiri itu, gue bisa mendapat impact yang berbeda dari reaksi pembaca. Itu kenapa gue suka menulis, to open more point of view.
The mature I had, I prefer stories that end up in an open ending nor sad.
Why?
Because that give us a lesson if not everything in this world goes happily. There are no fairy tale-liked stories. There is something called broken heart, there are disappointment, there are pain, and there are tears. Bahkan kenyataannya, dongeng yang gue baca waktu kecil kebanyakan juga sad ending -_- Kenyataannya akan selalu seperti itu. Hidup tidak selalu memberikan jawaban seperti apa yang dijanjikan. Jika kebahagiaan diartikan dengan kebersamaan, maka itu pasti sepaket dengan perpisahan. Akan ada hari dimana perpisahan mengakhiri kebersamaan itu. Jika tidak terpisah karena takdir Tuhan, bisa juga berakhir dengan ditinggalkan atau tergantikan. Selalu seperti itu.
Karena itu, gue mencoba menggeser prespektif gue akan deskripsi dari makna kata bahagia itu sendiri.
Happy is not always about two people are end up together.
Happy not about someone who managed to achieve his goals.
Jika pada akhirnya hidup tidak memberikan jawaban yang diinginkan, bukan berarti akhirnya layak disebut tragic ending. Hidup bukan hanya tentang Si Angel dan Evil yang harus mendapat hukuman dan apresiasi dari cara mereka hidup. Tapi tentang pelajaran apa yang mereka bawa dalam kisah mereka. Hidup tidak selalu memberikan jawaban seperti apa yang dijanjikan. Tapi tentang kebijaksanaa.
Karena gue percaya,
bahagia punya wujudnya masing-masing.
Sometimes it's better to giving up..
Sometimes it's better to letting go..
and we're here..
writing and living in this melancholic story..
Today is Saturday.
I woke up around five and the rain greeted my morning.
The sound of rain in the morning gives a soothing relaxation effect. So, don't want to miss a chance, I grab my morning coffee– the real coffee, while listening Magnolia from The Innocent Man OST. Such a perfect Saturday that led my desire to write something deep.

Yesterday, following up my social media detox program, I deactivated my personal Instagram.
A few of my friend thought me exaggerated with this and continuously asked what happened with me. Sorry for my social anxiety, actually, I am fine. I never struggle to be friendly and outgoing. I’m interested in other people, easily introduce myself with new people I encounter and I’m eager to share my thoughts and experiences with others too.
I used to be very outgoing and can’t stop talking, – now still, but now I think I was selective mute as a kid. I don’t know why or how I changed exactly. Maybe that changed because I eventually not found people who were like me and whom I could be myself with. Or maybe I just had poor verbal skills and it decreases with age. I really don’t know. I had work acquaintances but no real friends.
I like spending time alone. A lot.
But, am I a loner?
Probably not.
I just realised that everyone is living in their own vivid live.
But most of us do need other people– to some extent, thinking introversion as maladaptive habit, depressed or in extremely anxiety state. It isn't always like that, like me who doesn't understand why there are people who have to be accompanied to go to the bookstore, people often misinterpret solitude as loneliness too. It is mutual but not the same. Loneliness is a signal that someone need more togetherness but, Real Loners just don’t need others.
As an introvert, a small social circle can full-fill all my needs. I don’t have a huge number of contacts but still feel socially connected. Most people use to not needing others. Most people don't like being burden-er. I am alone because I am so self-sufficient that other people just aren’t on my emotional map. I am just a happy person who’s found the right balance between solitude and togetherness.
If you are asking, why is someone really like spending so much time alone?
It might be because she is trying to become someone new. If you find someone whose needing time away from social ties, it might mean that person entering a new phase of her life. She might be at a point in her life where she just want more space.
But there is one thing that I aware for being alone, the Real Solitude is a "highly-risk activity". It can make me blind from ‘what happened in this world?, and turn into isolation person.
Soon, the 2019 election will be held.
I was diving in CNN that afternoon and.. I suddenly stop scrolling my feed, let out noise sigh.
I was diving in CNN that afternoon and.. I suddenly stop scrolling my feed, let out noise sigh.
Hufft~~ Social media getting worse.
You know what I mean, right?
I hate the fact that social media is now often misused. Truth becomes unclear. It's all depends on the news-maker who is mostly not neutral and impartial.
The poison world populated by toxic people.
TOXIC.

As a born introvert, I enjoy spend the time to myself and often need it to recharge and relax. Regardless, just like other millennial children, I just like most of tech-minded generation. Too addicted in my devices and all things about virtual activities. I always miss the
message all the time but smartphone always in my hand. Such a coward.
That afternoon, something hit right on my head.
I never except something like this will happen to me.
BAAAAAM!!! Now..
I knew how to be
bored.
Social media
getting suck.
Social media is tiring.
Social media is frustrating..
Lagi risih banget sama keadaan sosial
sekarang ini. Nggak di luar, nggak di negara sendiri, semua perpecahan.
Garis bawahi ya, gue ini plegmatis. Garis keras.
Sikut-sikutan yang terjadi saat ini jelas
bikin gue seper-duper nggak nyaman. Bodohnya gue, udah tahu nggak bisa liat perseteruan dan nggak betah liat orang
beradu argumen, masih aja mantengin isu berjam-jam, jadi observant
comment section di Youtube, ujung-ujungnya malah pengen banting laptop sendiri
saking keselnya.
Gue bukan orang yang lihai menyuarakan isi hati terhadap sesuatu yang sentimetal dan
sensitif sebenernya, apalagi kalau itu soal agama atau politik. Tapi karena beberapa isu lagi hangat banget terjadi di Indonesia dan Dunia awal Desember ini, gue jadi pengen nulis aja walau gue sendiri bingung sebenernya perlu nulis beginian atau enggak. Disini gue nggak mau
bicara soal siapa yang benar dan salah dari sudut pandang gue
tentang kasus itu, gue cuma mau mengomentari keadaan sosial yang terjadi disekelilingnya hanya karena sebuah topik.
Kalau liat kehidupan bervirtual-sosial,
nggak ada yang namanya adil dan makmur disana.
Miris-pake-banget.
Pembahasan tentang human interest selalu menarik perhatian gue. Sifat, emosi, cara seseorang mengambil keputusan, pertimbangan apa yang mereka pikirkan, value of life, sejauh mana hati seseorang bisa bertoleransi dengan rasa sakit dan apa pengaruhnya buat pola perilaku manusia itu sesuatu yang ajaib dan keren untuk dipelajari menurut gue.
Karena gue sering banget mempertanyakan pada diri gue sendiri,
"Kenapa gue harus bertingkah kayak gini?"
"Kenapa harus gue yang berakhir kayak gini?"
"Kenapa gue nggak bisa kayak dia?"
"Kenapa ada yang namanya rasa sakit?"
"Kenapa ada orang yang begitu keras kepala dan selalu menganggap dirinya benar?"
Nanya gitu terus sepanjang hidup itu capek. Kadang gue pengen tahu juga apakah orang lain mengalami perang batin yang sama seperti gue atau enggak? Apakah mereka punya kontradiksi dari sifat mereka atau enggak?
Apa sebaiknya gue ngambil S2 Sosiologi atau Psikologi aja kali ya? -_-
Gue itu ISFP.
Introversion, Sensing, Feeling, Perceiving.
Salah satu dari enam belas kepribadian yang dikelompokan menurut MBTI.
Gue ada di 5% golongan itu dari keseluruhan populasi manusia di muka bumi ini. Mungkin karena populasi ISFP yang cuma sedikit itu, jadi tidak banyak blog atau artikel yang membahasnya secara dalam.
If you meet someone who's cool but awkward at same moment, that person must be ISFP.
If you meet someone who's cool but awkward at same moment, that person must be ISFP.