Generasi Sumbu Pendek

December 16, 2017

Lagi risih banget sama keadaan sosial sekarang ini. Nggak di luar, nggak di negara sendiri, semua perpecahan.

Garis bawahi ya, gue ini plegmatis. Garis keras.

Sikut-sikutan yang terjadi saat ini jelas bikin gue seper-duper nggak nyaman. Bodohnya gue, udah tahu nggak bisa liat perseteruan dan nggak betah liat orang beradu argumen, masih aja mantengin isu berjam-jam, jadi observant comment section di Youtube, ujung-ujungnya malah pengen banting laptop sendiri saking keselnya.

Gue bukan orang yang lihai menyuarakan isi hati terhadap sesuatu yang sentimetal dan sensitif sebenernya, apalagi kalau itu soal agama atau politik. Tapi karena beberapa isu lagi hangat banget terjadi di Indonesia dan Dunia awal Desember ini, gue jadi pengen nulis aja walau gue sendiri bingung sebenernya perlu nulis beginian atau enggak. Disini gue nggak mau bicara soal siapa yang benar dan salah dari sudut pandang gue tentang kasus itu, gue cuma mau mengomentari keadaan sosial yang terjadi disekelilingnya hanya karena sebuah topik.

Kalau liat kehidupan bervirtual-sosial, nggak ada yang namanya adil dan makmur disana. 
Miris-pake-banget.

Pertama, gue nggak ngerti kenapa perang komentar dan pendapat atau adu argumen, di youtube, instagram, bahkan artikel online itu udah kayak jadi semacem hobi atau tabiat para netizen. Nyinyirin individu lain atau kelompok udah kayak budaya yang harus banget dilakukan di dunia maya. Nggak bisa menafsirkan suatu masalah pakai kepala dingin, kerja jari lebih cepet buat ngetik komentar pedes ketimbang kerja otak untuk mencerna sebab-akibatnya. Kebebasan berpendapat disama-artikan dengan kebebasan mencela, kebebasan untuk saling menghina dan menjatuhkan. Nggak ada yang namanya toleransi yang ada hanya generalisasi. Entah ya, mungkin juga karena konten yang disuguhkan bersifat provokatif bikin orang yang tadinya santai jadi ikut kesulut, tapi sekarang netizen itu bener-bener nggak ada adabnya. Gue perhatiin banget nih ya, ujung dari keributan itu nggak pernah berakhir pada debat konstruktif yang sifatnya membangun, malah bawa-bawa hal nggak jelas, semacem;

Ente sendiri siapa,,,?? Paling paling cuma jongos dajjal
pernah anda ngaca? cara anda komen kaya anak kecil gk lulus sd..
kalau kurang ilmu lebih baik diam pak, anda terlihat semakin stupid , jangan siksa diri sendiri pak gak baik

Hati gue nyeri banget udah kayak orang patah hati, selalu liat yang kayak begituan ketika gue baca artikel atau nonton opini di Youtube. Ih banget.

Membenarkan apa yang kita anggap benar dengan mencela orang lain itu nggak ada elegannya menurut gue. 

Biar apasih?
Biar dianggap pintar?
Lah wong yang diajak debat aja nggak kenal kita. 

Menerapkan fungsi sebagai individu yang merdeka?
Enggak tepat juga kayaknya. 

Debat yang kebanyakan terjadi malah jadi ajang unjuk gigi untuk menunjukan siapa yang lebih berwawasan dibanding siapa. Judging sana-sini, saling menertawakan tanpa sadar kalau dirinya sendiri juga jadi bahan ketawaan gue. Komen panjang lebar tapi nggak menyelesaikan apapun.

Dibelahan dunia lain saudara kita lagi jihad menuntut keadilan dan berjuang demi perdamaian, disini kita malah bikin perang sendiri -_-

Kritis itu beda dengan menghina. 
Berpendapat sangat boleh dilakukan, tetap dengan cara yang pantas. Dan, ketika kata-kata sampah mulai muncul, berkomentar diluar konten, dan etika berbicara yang baik sudah dilanggar, maka topik yang semula dipermasalahkan akan terbias. Bukan menyelesaikan masalah, malah bikin masalah baru. Saling ejek, kalau udah kayak gini, rasisme nya muncul, label sana-sini pake bawa stupid-tolol-bego, pengennya bebas berpendapat tapi membatasi pendapat orang, makin nggak jelas sebenernya pengen apa. 

Pada saat seperti itulah gue ingin kolom komentar itu nggak pernah tercipta di muka bumi ini.

Tidak bisakah kolom komentar digunakan sebagai forum berdikusi yang sehat? Untuk mencari jalan keluar suatu masalah misalnya? Bukan malah untuk memperkeruh suasana dan jadi medan perang lainnya. Janganlah merasa diri paling benar kalau masih dengan suka cita riang gembira menghina orang lain.

Sederhananya sih, kalau mau didengar dan pendapat diterima, bicaralah (berkomentarlah) dengan cara yang santun dan beradab. Gimana orang mau terbuka pikirannya dan menerima argumen kita kalau setiap informasi berguna kita punya, yang mungkin orang lain belum tahu, yang seharusnya bisa jadi bahan pertimbangan dan membuka pemikiran baru malah disampaikan dengan cara yang nggak bagus? Gue juga males.

Kedua, 
menurut gue, orang yang mikir itu nggak gampang disulut dan dihasut. Mereka punya nilai-nilai yang mereka pegang sendiri tanpa perlu mencari dukungan orang lain untuk membenarkan apa yang mereka anggap benar. Orang yang mikir itu akan mencari informasi, membaca, mendengar, melihat, lalu menarik kesimpulan. 

Memangnya nggak cukup ya mempercayai sesuatu yang kita anggap benar tanpa perlu menjadikan orang lain sebagai golongan yang salah?

Menyalahkan orang lain agar dirinya dianggap benar itu apa ya sebutannya? Hero? Hmmm.. I don't think so. 

Karakter orang itu beda-beda, ada yang cenderung tegas dan vokal, ada orang-orang seperti gue yang cenderung diam. Daripada omongan kita salah-salah, bikin sakit hati orang lain dan hati sendiri nggak enak, bikin malah ngedosa, jadi milih diem. Tapi jaman sekarang, orang yang diem juga dianggap salah. Orang toleran dibilang liberal, orang dijalur tengah dibilang apatis, tapi orang yang memegang nilai-nilai dibilang radikal.

“Nyuruh orang buat diem itu sama dengan nyuruh buat santai. Nyuruh kita santai dengan isu sekeliling? Dasar pemikir bodoh,”

Itu label buat manusia seperti gue..
Bye.

Karena kebenaran hanya milik Tuhan dan netijen. 

Gue cuma pengen bilang;
restart our point of view guys..

Believe want you want to believe tanpa perlu menciptakan perpecahan.
Dan jadilah masyarakat milenial yang beradab :)

You Might Also Like

0 komentar

Comment