Book

What I've been Looking for in a Story

September 16, 2018

Gue sedang dalam fase yang namanya 'need some amusement'. Gue pernah bilang bahagia gue itu sangat sederhana. Cukup nonton series/movie, denger instrumental atau baca buku. Sialnya belakangan ini sesuatu yang sebetulnya sederhana ini jadi nggak sederhana lagi. Susaaaaaaah banget untuk gue 'menyelamkan diri' ke dalam sebuah cerita, jangankan menyelam, terhanyut aja macem susah banget. Padahal deretan drama dan film yang kata orang-orang bagus dan buku-buku best seller udah teriak-teriak butuh sentuhan tapi apalah daya jika hati enggan tergerak. Padahal dulu gue nonton segala jenis film masuk, baca segala jenis buku dari yang garing sampe yang super keren khatam. Sekarang? Nope. Nggak ada yang bisa menarik perhatian gue.

Dari sekian banyak film yang gue tonton tahun ini, hanya Little Forest yang bisa memenuhi ekspektasi gue. Dari sekian banyak drama korea bertebaran dengan rating super tinggi, hanya My Wife is Having an Affair this Week nya JTBC yang tayang tahun lalu yang berhasil membuat gue puas dengan ceritanya. Buku? Gue telah sepenuhnya beralih dari fiksi ke poetry, gue telah berpaling dari Windry Ramadhina ke Amanda Margareth saking frustasinya nggak bisa nemu cerita yang gue pengenin. 

So, this is several things what I've been looking for in a story..


Movie

Movie - Little Forest

May 10, 2018

Long time no review post~

Melodrama will always be mine but, if you are looking for a movie that you can feel blend with nature, like inhale morning dew scent or staring shooting star in the roof of your house without a care in the world, “Little Forest” is the best answer for you who have been tired of this messy world.


I don’t know why I love these kinds of indie feels movie. It is just a small movie with no villain, no real tension, and no real conflict either. But suddenly this kind of question come to my mind after watched it; “Do we really need uptight forever in our lives?”. Of course, not.

Metropolitan people try to enjoy their live with spend a lot of money, to have such a fancy life-style but this movie tickles us to think back again and just have a simply-life. Letting go is on of the best action we can do, because it’ll be give us exact answer what we’ve wanted.

The story is about, Song Haewon (Kim Taeri),  a good natures college kid who regains her spirit after comeback to her hometown. Simply-life. Waking up in the morning with no worries, cooking, farming, playing with pet, bickering and annoying with her loving friend and life in general are the flick’s main features. Her presence and the chemistry with her friends pumps fun into what could have been a mundane film about country life. Always loving Ryu Junyeol since Reply 1988 and start liking Jin Kijoo as an antagonist in Misty, but I’ve never know this trio (with Kim Taeri) will be this awesome. The trio is truly loveable in how they sometimes annoy but genuinely care about each other. Their problems seem very minor, but that is the beauty of it: you can see that everything is going to work out in the end.

Movie

Memaknai Film G30S/PKI

October 01, 2017

Alasan gue pengen bikin tulisan ini adalah karena selama 22 tahun hidup, baru sekali ini nonton film kolosal histori yang Indonesia sendiri punya. Nggak ngerti juga sih kenapa tuh film lebih layak disebut Thirller-Horor ketimbang cerita historic karena mencekam banget. Yang bikin gue usik pengen nulis panjang lebar begini adalah karena kicauan gue di jejaring menimbulkan beberapa komentar pahit semisal, “Udah gue duga lu itu pendukung orba dan anti kiri,”

Ehey bos! 2k17  jamannya Revolusi Mental, napa pula gue harus mihak sesuatu di masa lalu yang gue sendiri nggak ngerasain gimana pemerintahannya? Gue pilih demokrasi berbasis syariat Islam kalau bisa.

Movie

Beautiful Story between 'A Man and Woman'

September 24, 2017

I choose to stop writing about dramas and movies because it seems don't bring any 'faedah'. Yep.. people these days can googling easily if they want to read some review. But please forgive me, I should break my rules because I can't hold myself to not talking about this one.

Rather than talk about the synopsis, I want to write about the directing instead..

A Man and a Woman is a superior example of the top-hole melodrama that Korean cinema does so well these days.


Tales of angst-ridden forbidden love have always been my favourite.
I like kind of tender-subdued-delicate movie like this while others may find it a little dull and ponderous.

Movie

Banda : The Dark Forgotten Trail

August 12, 2017

Ketika orang-orang sibuk nyari seat buat nonton Annabelle.
Pertanyaannya adalah;  sejak kapan gue ikhlas ngabisin duit buat nonton pelm setan?

Bebererapa waktu lalu, gue diracun oleh salah seorang teman virtual dengan film berjudul Banda : The Dark Forgotten Trail.

Pertanyaan selanjutnya adalah; sejak kapan gue nonton Dokumenter?
Jawabannya adalah; Sejak gue sadar kalau Dokumenter itu menyuguhkan sebuah kejujuran *atsaaaaah~

Book

Critical Eleven [not a review]

May 28, 2017

Ini nggak ada hubungannya dengan review books or movies seperti yang sudah-sudah. Gue hanya ingin bercerita... sedikit serius sebenernya..

Jadi waktu itu temen gue tanya, "Pin, lo punya novel Critical Eleven?"
Gue : "Punya,"
Temen gue : "Ceritanya kek gimana sih?"
Gue : *space out* hmmmm.. not sure..

Temen-temen gue di kantor pada ribut ngebet nonton Critical Eleven di bioskop dan heboh pengen baca bukunya. Sebagai orang yang "demen" ngoleksi buku, gue punya semua bukunya Ika Natassa (kecuali Anatalogi Rasa) but guess what...semua buku Ika yang gue punya, belum pernah gue baca sampe khatam. Remember, I just like collect books, not really read it~

Sembilan puluh persen novel indonesia yang sudah diadaptasi ke Film sudah gue baca bukunya, dan gue bangga. Sebagai orang yang merasa punya titel kek gitu, kali ini gue merasa gagal karena Critical Eleven ini menjadi Film adaptasi pertama yang belum pernah gue baca bukunya (disaat gue udah beli tuh buku dari jaman dia baru publish)

Movie

Movie - One Way Trip (2016)

June 23, 2016

"Boys grow up unexpectedly..."
Intinya, lagi nyari tontonan yang agak - agak kelabu gitu setelah beberapa bulan belakangan ini stasiun tv korea sana kayaknya lagi gandrung rom-com dan perfilmannya juga belum ada yang nampol.

Dan.. I found it!

Film yang awalnya gue pikir akan 'sangat ringan' dan 'tidak gue banget' nyatanya masuk best movie versi gue di semester awal tahun ini. Cukup intens dan... melo.

Tipikal ceritanya hampir sama dengan TWENTY nya Kim Woo Bin, Kang Ha Neul dan Jun Ho, 
a film about youth; more precisely, a particular moment of transition from being an adolescent to becoming an adult. Tentang persahabatan, tentang bagaimana sekelompok anak muda yang hendak merayakan kedewasaan mereka, tapi gue kasih jempol lebih buat cerita ini, ya karena tadi, cerita ini lebih punya makna (termasuk karena menyelipkan bumbu - bumbu betrayal dalam cerita sederhana ini)


Opening nya sengaja dibikin agak sengit.
Dimulai ketika empat sekawan ini Yong Bi (Ji Soo), Ji Gong (Ryu Jun Yeol), Doo Man (Kim Hee Chan) dan Sang Woo (Su Ho) terlibat kejar - kejaran sengit dengan dua orang polisi. Adegan ini bikin bertanya - tanya sebenernya apa yang terjadi sama di empat anak sampe jadi buronan gini, apa mereka troublemaker kita dibikin menduga - duga dan opening kredit berakhir dengan Sang Woo yang menemui takdir buruknya di pembukaan film. Sang Woo tertabrak mobil ketika berusaha melarikan diri dari kejaran polisi.

Movie

Movie - Mood of The Day (2016)

April 02, 2016

"Even of you date someone so easily, you seem to only focus on one person at a time. And when you smiled to the child, it looked so genuine. No matter how busy you are, you don't forget to eat 3 times a day. That kind of good person.."


Sejujurnya, genre film kayak gini enggak gue banget. Berhubung cast nya Moon Chae Won dan Yoo Yeon Seok, wajib hukumnya bagi gue untuk nonton.

Ceritanya sederhana banget.
Bae Soo Jung (Moon Chae Won) yang secara tak sengaja berkenalan dengan seorang pria yang duduk disebelahnya yang bernama Kim Jae Hyun (Yoo Yeon Seok) di dalam sebuah KTX dalam perjalanan menuju Busan. Masalahnya, perkenalan mereka langsung menimbulkan kesan yang tidak baik. Soo Jung merasa terganggu karena Jae Hyun terus menggodanya dan belum apa - apa pria itu langsung mengajak Soo Jung untuk one night stand bersamanya.

Movie

Movie - Confession (2014)

June 14, 2015

Literal title nya : Good Friend. Awalnya heboh nyari film ini karena kedatangan Lee Kwang Soo tahun lalu di Korean Film Festival Indonesia 2014. Film ini menjadi film pembuka di KFF kemarin. Dengan bermodal borongan A-list aktor di dalamnya, Ji Sung, Lee Kwang Soo dan Ju Ji Hoon, maka film ini wajib untuk di tonton. Fyi, Werewolf Boy juga jadi salah satu film film yang tayang di KFF kemarin, bersama Miss Granny, Speedy Scandal, Secretly Greatly, Habibi & Ainun, 5 cm, dan lain sebagainya :D

Sebenernya gue udah siap nonton dari akhir tahun kemarin. Tapi ada ada, film ini kegeser dengan film - film terbaru gue yang lain, dan akhirnya tenggelam dalam folder antah berantah. Baru tadi pagi nama 'Confession' menyerobok mata gue, akhirnya gue tonton :)


Tentang tiga orang sahabat : Hyun Tae (Ji Sung) seorang pemadam kebakaran yang hidup dengan istrinya yang seorang tunawicara, juga seorang anak perempuan bernama Yuri. In Chul (Ju Ji Hoo), seorang pegawai asuransi yang sedikit licik, dan Min Soo (Lee Kwang Soo), seorang pebisnis kelas kecil yang sangat bergantung pada dua sahabatnya.

Di awal cerita di gambarkan bagaimana persahabatan mereka bisa terjalin sangat kuat hingga saat ini. Dulu, saat kelulusan SMP, mereka bertiga pergi ke sebuah gunung. Kecelakaan terjadi, Min Soo jatuh ke jurang membuat Hyun Tae dan In Chul panik. Mereka berdua memapah Min Soo ke sebuah pondok, menahan hawa dingin bersama - sama. Ketika Hyun Tae terbangun dari tidur, In Chul telah meninggalkan dirinya dan Min Soo dari pondok. Hyun Tae mengira In Chul melarikan diri dan meninggalkan mereka. Akhirnya Hyun Tae berusaha memapah Min Soo sendirian melewati salju yang lebat, hingga akhirnya Hyun Tae tak sanggup berjalan lagi, dan jatuh pingsan. Hyun Tae meminta maaf pada Min Soo karena tak sanggup lagi dan berfikir mereka akan mati. Tak lama kemudian, In Chul kembali, membawa segerombolan orang di belakangnya. Ternyata In Chul tak meninggalkan mereka, ia pergi sendiri berusaha mencari pertolongan untuk Hyun Tae dan Min Soo :') Itulah titik awal perhabatan mereka. Mereka tumbuh dewasa dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Hyun Tae, pria baik hati dan peduli keadilan, sosok paling mawas dan paling bisa diandalkan. In Chul, pembuat masalah, liar dan picik, namun sangat loyal pada kedua sahabatnya. Juga Min Soo, si polos yang merasa dirinya menjadi beban bagi kedua sahabatnya tapi selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka.

Movie

Movie - 99 Cahaya Di Langit Eropa (2013)

December 26, 2013

Sebelumnya, gue mau nyeritain dulu apa yang terjadi sebelum gue nonton film ini. Kalau nggak mau baca bagian ini, Silahkan skip dan cari tanda *****.

Berhubung ini lagi liburan, gue nonton sama emak, babeh, dan adek gue. Sempat terjadi berdebatan sengit antara kami berempat : Gue dan bapak milih nonton Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Ibu dan adik gue milih nonton 99 Cahaya di langit eropa. Jam 17.00 tepatnya gue dan keluarga gue jalan dari rumah. Ada dua pilihan Film dan dua pilihan tempat. Van Der Wijck di BTM dan 99 Cahaya di langit eropa di Belanova. Dengan pertimbangan dan perdebatan alot, akhirnya kubu gue dan bapak gue menang. Kita menuju Bogor Trade Mall alias BTM alias bi-ti-im buat nonton Van Der Wijck.

Sesampainya disana kurang lebih jam 17.50, emak gue bertugas beli makanan, bapak gue bertugas antri tiket. TERNYATA!!!! Tiket untuk jam 18.05 sudah habis dan emak gue sudah membeli popcorn seember, soft drink empat biji, astor, dan fried fries jumbo. Kami sekeluarga frustasi. Bad Mood. Bapak gue sebagai orang yang paling tidak terombang – ambing akhirnya memutuskan untuk ‘MAKAN’ saja nggak usah nonton terus balik. Apa kabar dengan popcorn seember gue? Karena gue nggak ikhlas, akhirnya gue liat lagi tuh jadwal film. Van Der Wijck ada lagi jam 21.15. “Pah, besok libur nggak? Mah, besok libur nggak? Mas besok libur nggak?” jawabannya kami sekeluarga libur. “Mau nonton yang malem?” Tanya bapak gue paham.

Bimbang juga karena gue nggak pernah nonton semalem ini sebelum nya. Tapi setelah seisi keluarga gue merasa sayang karena jarang bisa kumpul lengkap begini, alhasil kami memutuskan untuk nonton dengan menunggu sekitar EMPAT JAM!. Kami pilih Van Der Wijck. Sampe di depan kasir, gue punya ide cemerlang. Gue lihat lagi deretan film nya dan ternyata 99 Cahaya di langit eropa mulai jam 20.50, lumayan selisih waktu nya 25 menit, akhirnya kami membuat keputusan baru nonton 99 Cahaya.

Kami harus menunggu kurang lebih empat jam. Gue nggak jadi bad mood karena kami makan makanan jepang favorit gue dan adek gue, terus belanja dulu. Balik lagi ke 21 udah jam 20.00. sambil nunggu, popcorn seember dan kentang goreng nya habis duluan bahkan setengah jam sebelum film nya mulai.

Pukul 20.40 terdengar suara datar “Mohon perhatian, pintu teater 5 akan telah dibuka..” AKHIRNYAAA!! Gue menarik emak bapak gue nggak sudah terkantuk – kantuk dan duduk manis di teater lima.


*****
Film nya. KEREN! Walau gue udah tahu garis besar film ini dari internet tapi gue tetep takjub. Ya selama ini film dengan latar eropa pasti bergenre romance tapi ini lain, agama. Yang membuat gue ragu pada awalnya karena cast nya nggak menarik perhatian. Dan keraguan lain karena tema agama gue pikir akan sangat berat. Ternyata gue salah sodara – sodara. Recommended banget buat di tonton!!

Nganga. Ngakak. Nangis.

Movie

Movie - A Werewolf Boy (2012)

June 21, 2013

Dua ribu dua belas memang tahun emasnya Song Joong Ki. Selain namanya bersinar karena sukses membawakan tokoh Kang Ma Ru dalam melodarama 'Innocent Man' yang dapat bertranformasi dari bad boy menjadi good boy atau sebaliknya dengan sangat sangat menakjubkan, kali ini ia lagi - lagi mengambil peran dalam sebuah melofilm berjudul 'Werewolf Boy' yang tayang di tahun yang sama.


Ceritanya :
Kim Soon Yi (Lee Young Ran), seorang nenek berusia 47 tahun yang menetap di Amerika tiba - tiba mendapat telfon dari kampung halamannya, Korea, yang memberitahukan bahwa rumahnya akan dijual. Ia memutuskan untuk kembali ke Korea untuk menuntaskan urusan tersebut. Di temani cucunya, Eun Joo (Park Bu Young. Nah Bo Young ini jadi pemeran Soon Yi remajanya), ia pergi ke desa dimana ia tinggal dulu. Namun perjalanannya kesana membawanya pada memori masa lalunya, tentang cinta pertamanya..

Alur kembali ke masa lalu. Soon Yi remaja (Park Bu Young) terpaksa berhenti sekolah dan pindah ke desa bersama ibu dan adik perempuannya karena kesehatan paru - paru nya yang buruk. Ia tinggal di sebuah rumah yang dibelikan oleh anak teman almarhum ayah Soon Yi, Ji Tae (Yoo Yoen Suk). Ji Tae adalah anak pesohor di desa tersebut, ia pemuda yang angkuh. Ji Tae menyukai Soon Yi karena itu ia membantu keluarga Soon Yi dan selalu beraasumsi Soon Yi akan menikah dengannya, sebagai balas budi pastinya.

Karena tubuhnya yang lemah, Soon Yi menjadi gadis yang pendiam dan tertutup. Ketenangan keluarga Soon Yi kembali terusik karena penampakan seorang pemuda dengan tingkah aneh muncul. Pemuda itu bertingkah laku seperti serigala, ia juga tak bisa berbicara, menulis, dan melakukan hal - hal yang manusia lakukan. Ibu Soon Yi mendengar kabar bahwa pemilik rumah sebelumnya meninggal karena serangan jantung dan terdengar kabar bahwa ia memiliki peliharaan seekor serigala. Pemuda tersebut selalu terlihat kelaparan, badannya kotor dan tak terawat. Ibu Soon Yi berfikir bahwa pemuda itu adalah anak terlantar korban perang Korea. Merasa iba, Ibu Soon Yi memutuskan untuk merawat pemuda itu. Ia tak percaya bahwa menyerahkan anak itu pada polisi membuat kondisi anak itu lebih baik. 


Movie

Movie - Malaikat Tanpa Sayap (2012)

January 01, 2013

Yuhuuuu... Malem ini tuh malem yang cukup mengharu biru. Ini semua gara - gara nonton Film Malaikat Tanpa Sayap. Waktu itu pas ke tukang DVD, sempet sih udah mau beli DVD nya tapi nggak jadi gara - gara cover nya nggak meyakinkan. Hahaha.. And then, now I am crying like a baby when I watch it. Hhahahaa..
\
Ceritanya klise, tentang orang sakit, cinta, dan pengorbanan. Tapi dipaparin dengan alur yang agak berbeda. Dipadu dengan konflik lain, seperti masalah keluarga, ekonomi, dan persahabatan. Secara keseluruhan sih yang gue bisa ambil dari film ini tentang mengambil keputusan. Kadang kita nggak punya pilihan selain mati, padahal kematian itu pilihan.

Akting nya maudy ayunda dan adipati dolken lebih cetaaaar di film ini dibanding di Perahu Kertas. Justru 'radar neptunnus' mereka lebh berasa disini. Yang gue suka apa lagi? Tentu aja, ada bagian Dewi Lestari sebagai penyanyi 'Malaikat Juga Tahu' yang jadi soundtrack nya.. "Karna kau tak lihat, terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan....."
Review : Vino (Adipati Dolken) tidak terlalu dekat dengan keluarga apalagi setelah papanya, Amir (Surya Saputra) bangkrut akibat ditipu rekan bisnisnya hingga mereka pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakan di gang. Mamanya, Mirna (Kinaryosih) justru kabur dari rumah, bahkan tega meninggalkan, Wina (Geccha Qheagaveta), putrinya yang berusia 5 tahun.
Suatu ketika Wina terjatuh di kamar mandi dan dari hasil rontgen Wina diharuskan menjalani operasi, kalau tidak kakinya infeksi dan harus diamputasi. Wina membutuhkan transfusi darah karena pendarahan, sementara golongan darah Wina cukup langka; A rhesus negatif. Vino yang mempunyai golongan darah yang sama, mengajukan diri. Saat itulah, Calo (Agus Kuncoro) yang sedang mencari pendonor jantung mendengar hal itu menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino.
Di rumah sakit itu pula Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda). Sejak Sejak itu Vino merasa hidupnya berwarna. Vino yang awalnya sempat putus asa hingga bertransaksi dengan Calo, mulai goyah. Ia tidak mau mendonorkan jantungnya namun hal itu membuat Calo marah besar.
Suatu ketika, Calo memberitahu pada Vino, jika dia tak jadi mendonorkan jantungnya, maka Mura lah yang akan mati. Sejak itu Vino tahu kalau jantungnya akan di donorkan untuk Mura. Vino goyah, dia mencintai Mura dan ingin bersama Mura, tapi jika dia tidak mendonorkan jantungnya, Mura lah yang akan pergi. Tapi jika dia mendonor, Vino lah yang akan mati.
Karena Vino tahu dia akan segera mati, Vino berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayah nya. Endingnya yang keren. Mura dan Vino tetap hidup. Mura mendapatkan donor jantung dari ayah Vino yang sekarat akibat ditembak oleh pacar baru Ibu Vino saat memperebutkan Wina. Cukup bangus film nya. Ini bakal jadi salah satu film indonesia favorit gue. Maju terus perfilman Indonesia.

Movie

Movie - Untuk Rena (2006)

December 29, 2012

Film ini gue tahu udah jebot banget. Gue inget banget dulu temen gue pas SD, Andini, ngasih unjuk ke gue dvd "Untuk Rena" yang dia punya waktu gue main ke rumah nya. ""Bagus banget tahuuuu!!" kata dia antusias. Waktu itu gue inget, gue masih kelas 6 SD. Gue nggak menggubris tawaran Andini yang waktu itu niat menjemin ke gue. Soalnya gue nggak tahu itu film apaan jadinya nggak gue tanggepin hehehe...

Sekarang giliran gue suka sama Mocca, dan gue tahu salah satu album mereka adalah 'Untuk Rena' gue coba flashback pernah denger film itu darimana dan dari siapa? Tahu nya... Andini. Kebiasaan banget nyesel kayak gini. Kalau - kalau gue lagi ke tukang DVD nyari film korea, kadang gue suka nanya ke abangnya, "Bang tahu film Untuk Rena nggak?" nanya doang gue. "Tahu neng, tapi udah nggak ada itu mah film udah lama banget," Iya mang urang ge nyahoeun. Hahaha..
Semalem lagi onlen twitter, naima update, "Film masa kecil," gue pengen tahu film yang dimaksud ima apaan, siapa tahu Keluarga Cemara, atau petulangan Sherina gitu, kata naima "Untuk Rena," langsung gue tanya ada di mana. Di Indosiar dan gue nggak ketinggalan nonton. Akhirnya... gue nonton gue tuh film.. :D

Sinopsis : Sebuah cerita tentang seorang anak berusia 11 tahun. Rena (diperankan oleh Maudy Ayunda), yang sejak kecil tinggal di Rumah Matahari, sebuah panti asuhan yang damai dan penuh tawa. Di panti yang menaungi kurang lebih 30 anak itu, Rena memiliki 'adik-adik' yang sangat ia lindungi, dan ia sering membuat ulah setiap datang kunjungan calon orang tua yang ingin mengadopsi mereka.
Menjelang bulan suci Ramadhan, datang seorang tamu misterius bernama Yudha (Surya Saputra) ke Rumah Matahari. Hal ini membuat Rena sangat khawatir karena ia menduga Oom Yudha datang untuk mengambil salah satu adik-adiknya. Rena pun mengajak adik-adiknya untuk bersikap hati-hati terhadap Oom Yudha. Tapi Yudha tetap datang di setiap akhir minggu dan pelan-pelan terjalin keakraban di antara mereka. Suasana di Rumah Matahari mulai berubah. Rena tiba-tiba merasa sangat dekat dengan Oom Yudha, tanpa ia bisa menyadari apa sebabnya.