Critical Eleven [not a review]

May 28, 2017

Ini nggak ada hubungannya dengan review books or movies seperti yang sudah-sudah. Gue hanya ingin bercerita... sedikit serius sebenernya..

Jadi waktu itu temen gue tanya, "Pin, lo punya novel Critical Eleven?"
Gue : "Punya,"
Temen gue : "Ceritanya kek gimana sih?"
Gue : *space out* hmmmm.. not sure..

Temen-temen gue di kantor pada ribut ngebet nonton Critical Eleven di bioskop dan heboh pengen baca bukunya. Sebagai orang yang "demen" ngoleksi buku, gue punya semua bukunya Ika Natassa (kecuali Anatalogi Rasa) but guess what...semua buku Ika yang gue punya, belum pernah gue baca sampe khatam. Remember, I just like collect books, not really read it~

Sembilan puluh persen novel indonesia yang sudah diadaptasi ke Film sudah gue baca bukunya, dan gue bangga. Sebagai orang yang merasa punya titel kek gitu, kali ini gue merasa gagal karena Critical Eleven ini menjadi Film adaptasi pertama yang belum pernah gue baca bukunya (disaat gue udah beli tuh buku dari jaman dia baru publish)

Tadi malam, abis taraweh, abis tadarusan, gue kegaringan di kamar karena download-an Happy Together episode Jo Insung gue failed tepat di 94% (heol banget kan-_-) terpaksa gue download lagi dari awal, itu resolusinya gede banget jadi unduhnya lamanya bukan main -_-, karena garing itu, gue keinget Ismi yang minta gue bawain novel Critical Eleven kalau gue balik Bogor, jadilah gue ngacak-ngacak rak buku dan nyari buku itu biar nanti pas gue balik Jakarta gue nggak lupa bawa.

Sembari nungguin download-an kelar, gue buka tuh novel yang dulu gue berhenti baca di halaman 21 dan sialan memang, gue melupakan Oom Insung gue karena Ale dan Anya. Gue nggak nyangka nih buku bakalan secanggih ini. Gue nggak nyangka ini buku yang udah gue abaikan bertahun-tahun ternyata ceritanya bakalan "gue banget".

Gue nggak ngerti ini emang gue yang cengeng apa gimana, gue nangis sodara-sodara..

Ini adalah kali pertama setelah sekian lama gue nggak kena impact yang gede setelah baca buku. 

Terlepas dari film nya yang menurut kasak-kusuk jauh dari ekspektasi. Well karena gue emang udah lama give up sama film adaptasi novel yang sembilan puluh sembilan persen melenceng dari cerita aslinya. But, this book totally well recomended!!

Entah sejak kapan gue suka sama cerita tentang marriage life.
Mungkin sejak gue nonton My Wife is Having an Affair This Week nya JTBC tahun lalu..
Atau sejak gue nulis cerita tentang marriage life..

Sejak dulu gue memang suka jadi pemerhati. Gue suka banget nerka-nerka berdasarkan apakah seseorang mengambil keputusan mereka. Gue suka nyoba mikir dari sudut pandang berbeda, semacam "Kalau gue ada diposisi dia, akankah gue mengambil keputusan yang sama?" atau "Kalau gue jadi dia, akankah gue seberani dan setegar dia?"

Ngaruh atau enggak, gue nggak tahu, tapi karena cara mikir gue itu, gue jadi kayak punya toleransi yang tinggi terhadap satu kesalahan, because I know they must had their own reason. Karena bagi gue, jahat atau baiknya seseorang itu tergantung pada sejauh mana kita bisa berkompromi dengan nilai-nilai yang dia anut. Tapi sifat gue ini bukan sifat yang bagus untuk ditiru karena lemahnya sifat gue ini, gue jadi nggak mampu mengingatkan seseorang ketika dia salah. Gue akan cenderung mencoba mengerti daripada membantu dia memperbaiki diri. Pada dasarnya kan, kesalahan dan kebenaran itu hukumnya mutlak, jelas garis dan batasannya dan kita sebagai manusia wajib untuk saling mengingatkan.

It's not like I know everything about marriage life, but because I know nothing makanya gue nulis beginian.

Gue suka cerita kayak gini karena gue udah sick sama kebanyakan cerita di dunia ini yang memaksakan adanya villain dan heroin. But, marriage life story is not that kind of story.

Cerita tentang marriage life itu bisa sangat komplex tapi juga bisa jadi sangat simple. Konflik nggak melulu tentang orang ketiga.
Bisa hanya karena little bad habit tapi nggak sadar ternyata itu nyakitin orang lain.
Atau karena little sweet things yang sebenernya nggak penting tapi itu bermakna banget.
Atau perdebatan karena perbedaan prinsip.

But in marriage life story, konflik itu muncul bukan karena salah satu dari si suami atau si istri jahat atau salah satunya kelewat pasrah, tapi sering juga karena si suami dan si istri itu terlalu baik. Intinya, semua masalah itu terjadi karena mereka manusia. human..

Karena setiap orang mencintai dengan cara yang berbeda.
Ada yang mencintai dengan vokal, ada yang suka public affection, ada juga yang cuek, ada yang nyantai biasa aja, ada yang kalau di depan umum nggak peduli tapi kalau udah barengan sayangnya minta ampun. Perbedaan itu aja bisa bikin masalah jadi gede padahal basically that's all still the name of "love".

There are no heroes or villains, only various states of compromise.

Suami istri itu, terlepas dari mereka udah memilih satu sama lain untuk jadi tulang rusuk masing-masing dan ngiket satu sama lain dengan ijab mereka tetap nggak akan lepas dari yang namanya saling menyakiti.

Yang lebih gue sukanya dari cerita kayak gini adalah, saat salah satu pihak tersakiti, mereka nggak menyelesaikannya dengan main jeplak "Okay, I'm enough with you, let's break up", terus masalah kelar gitu aja. Semarah apapun mereka, sesakit apapun mereka, se-sick apapun mereka dengan pasangan mereka, mereka nggak akan dengan mudah bilang "Stop it, let's divorce," nggak bisa gitu. 

Ada sejuta kali pertimbangan, semilyar kali permikiran untuk itu. Kebanyakan dari mereka yang bahkan udah nggak merasakan cintapun terkadang tetap memilih untuk tinggal. Karena apa? Karena mereka akan selalu ingat darimana mereka memulai, sejauh apa yang sudah mereka lewati untuk sampai ke tahap itu dan siapa saja yang akan tersakiti dengan keputusan mereka itu.

Karena segimanapun mereka hurting each other, mereka akan selalu menjadikan pasangan mereka sebagai rumah, tempat untuk pulang. That why marriage.

See.. this is simple but not that simple either.

Beberapa minggu lalu, ditengah penelitian gue yang melelahkan, gue sempet citcitcuit sama Ka Bas. Nggak paham lagi kenapa nih kakak gendut asik banget kalau diajak ngomong bener, terlepas dari gue sama dia yang dari dulu kerjaannya bickering mulu. As usual, we talked mostly about people's behavior dan seringan berujung pada sharing tentang masa depan.

Yang gue ceritain waktu itu adalah, ISMI. My beloved sista who already taken and now become a mom padahal doi lebih muda setahun dari gue. Ya gue tahu, maturity itu nggak dinilai dari angka usia jadi nggak usah bilangin ke gue lagi. Tapi berhubung Ismi dan gue itu sebelas:sebelas setengah (alias mirip kebangetan banget tabiat, pembawaan, tindak tanduk dan cara mikirnya) gue kayak di lempar ke luar bimasakti waktu Ismi officialy announced that she'll getting married beberapa bulan lalu.

Ketika temen ngegalau di McD Salemba, temen ngalay di Gramedia Matraman, temen get lost gue dimanapun kita berada, tiba-tiba talked about getting married itu seperti gue ditampol pake pantat panci.

Ismi hijrah.
Beneran hijrah.
Dan gue luar biasa salut sama dia.

Karena apa?
Karena dia udah sampai pada tahap dimana gue belum pernah kepikir bisa sampe disana. Ibarat main uler tangga, Ismi dapet dadu 6/6 sedangkan gue 1/1, Ismi maju dua belas langkah, dapet tangga pula, sedangkan gue maju dua langkah, kena uler, sukur-sukur stay ditempat.

Selama ini gue mikir, marriage is SOMETHING REALLY BIG.
A BIG BIG BIG DEAL yang harus gue pikirin seribu kali bahkan setrilyun kali.
Bukan sesuatu yang bisa gue pilih dengan mudah kayak gue mau naik gojek atau grab.

Marriage is not finish line, but new start.

Ka bas bilang, "Nggak serumit itu, Pin. Itu hanya tentang ucapin syahadat dan ijab di depan wali lu. Kuncinya satu, ikhlas karena Allah," 

Bagi gue itu nggak sesederhana itu.

Gue belum sampai pada stage dimana I can deal with it. Enggak kok, gue nggak punya traumatic apapun. Sederhananya, gue merasa gue belum cukup bisa me-reveal sisi terbaik gue. Marriage is all about taking and giving. Gue merasa gue masih sedikit egois karena gue masih terlalu mencintai diri gue sendiri dan enggan membagi diri gue ke orang lain. Bagi gue membagi kebahagiaan itu lebih mudah daripada membagi rasa sakit. Gue belum siap membuka diri membagi kekecewaan dan kegelisahan gue dengan orang lain. << gue nggak ngerti kenapa kalimat ini kesannya angst banget yak (?)

Gue masih ingin menikmati masa-masa kesendirian gue untuk ngasih full support ke diri gue. Gue masih pengen les inggris, gue masih pengen belajar main piano dan biola, gue masih pengen jadi anak yang jiwa raganya selalu ada buat ibu dan bapak gue. Gue pengen meng-gain diri gue terlebih dulu untuk nantinya bisa menjadi orang yang baik untuk suami dan anak gue nanti

Complicated, right?
Hypocritic banget sih emang kedengerannya.

You Might Also Like

0 komentar

Comment