Self Focus

Terus apa?

March 10, 2022

Setelah 3 bulan lalu wisuda sarjana, gue mulai sering sambat. Bukan kenapa-kenapa ya, tapi kayak gue terlalu nothing to do setelah hampir selama 26 tahun gue hidup, gue kayak dituntut untuk melakukan sesuatu. Walau bukan tuntutan yang gimana-gimana, tapi pola hidupyang kayak robot yang selama hampir seumur hidup ini gue lakuin bikin gue tetiba hilang arah ketika gue nggak lagi di tuntut untuk melakukan sesuatu. Kasarnya, goals kehidupan gue sebagai anak emak-bapak adalah jadi sarjana, tapi setelah sampai ditahap itu, setelah selesai, udahan, terus apa?

Self Focus

Scatter-Brain

June 13, 2019

Urban dictionary - scatter brain; out of mind. Many thoughts.
Cambridge - noun (c) a person who forget things easily or does nit think seriously about things.

Scatter-brain; GUE.

Dalam rentang waktu sebulan ini, gue banyak banget kehilangan barang yang disebabkan oleh kelalaian gue sendiri. Sebelumnya gue emang sering banget ngalamin hal kayak gini tapi agaknya beberapa waktu ini semakin parah dan ini berdampak pada kualitas hidup gue.


Contoh sederhana yang paling sering ditemuin dikehidupan sehari-hari, misal;
Kita lupa mau ngomong apa di tengah pembicaraan. Atau lupa meletakan barang yang belum lama dipegang. Atau kita pergi ke satu tempat untuk melakukan sesuatu, tapi begitu sampai di tempat itu, kita lupa dengan hal yang ingin dilakukan yang membuat kita harus kembali ke tempat sebelumnya untuk me-recall kembali ingatan kita. Konyol sih emang, tapi kalau keseringan gitu, lumayan menganggu produktifitas hidup seperti yang sedang gue alami sekarang. Bawaannya gelisah mulu karena takut ada yang kelupaan atau ketinggalan.

Self Focus

Why I Love Being Single

April 27, 2019

Saat ini gue berada di umur dimana tiga perempat dari populasi manusia seumur gue, sudah menemukan pasangan hidup mereka. Dibilang mendadak panik liat temen sepermainan udah one step further sebetulnya engga juga, gue percaya masing-masing orang punya finish nya masing-masing. That is not somewhat competition. Ada juga orang yang mempertanyakan alasan gue mempertahankan predikat jomblo merdeka ini selama hampir 6 tahun. Banyak yang mengira gue punya high standar of man, ada juga nggak mengira gue belum move on. Apapun yang mereka asumsikan, gue nggak pernah merasa miserable dengan kejombloan ini jadi nggak masalah.

Banyak orang yang menganggap kesendirian merupakan ketidaksempurnaan karena sejatinya manusia ditakdirkan untuk hidup berpasang-pasangan. Ini semua pasti karena lagu-lagu galau yang sering bikin jargon 'kehadiranmu membuatku utuh' jadi kesannya kalau nggak punya pasangan jadi nggak utuh gitu -_- Gue sendiri nggak merasa begitu. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam mem-value 'kebahagiaan' versi mereka. Kalau gue pribadi sederhana aja, gue nggak mencari kesempurnaan dengan bersama orang lain karena bersama diri sendiri aja gue sudah merasa cukup.

Daily

#ThisIs24

January 22, 2019


THIS IS 24. 

Barusan abis liat posting di NY Times, ada campaign #ThisIs18 jadinya gue jadi pengen nyobain juga tapi diganti jadi #ThisIs24 mumpung moment nya pas. Alhamdulillah pini sudah 24 tahun kemarin. Honestly, I don’t think that age is the true indicator of whether a person is an adult or not. Walau gitu, kenyataan yang nggak bisa dipungkiri adalah, belum sampe setengah abad, gue udah suka lupa sama umur sendiri, bahkan pernah sampe buka kalkulator cuma buat ngitung umur gue sekarang berapa sebenernya -_- So, let me tell you what 24 feels to me. 

#ThisIs24 

Self Focus

Pin's Q and A

January 01, 2019

Welcome 2k19! Welcome new archives! Welcome 10 years blogging! Welcome my month! And Welcome New Life!!

This is my QnA for my first post in 2019.
Here we go..

Self Focus

Authentic Things About Me : Contradiction

February 11, 2018

Seperti biasa, instead ngurusin revisian penelitian, gue malah nyasar dimari. Pengen nulis apa gitu disini tapi nggak pengen tema nya yang berat-berat munculah judul macem ini.

Sebenernya sifat ini nggak autentik juga karena gimana pun sifat manusia itu pasti dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang akhirnya membentuk kepribadian seseorang. Tapi sebagai pengamat diri sendiri yang jelas sangat subjektif, ini adalah pribadi gue yang tumbuh berkat motivasi lingkungan dan rasa ingin tahu gue.

Nggak sedang menjadi sok tua, tapi setelah melewati masa sekolah, pertemanan, cinta-cintaan, dunia kuliah, dunia kerja, ambisi, ego, idealism vs realism, peer pressure, dll, gue rasa kepribadian seseorang akan terbentuk dengan sendirinya karena keadaan-keadaan itu. Pencitraan cuma di medsos, kenyataannya nobody's perfect. Jangan percaya dengan tipu-tipu dunia virtual.

Belakangan ini, gue kehilangan selera untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya menjadi hobi dan ambisi gue. Hal-hal yang dulu begitu seru untuk dilakukan menjadi tidak lagi menarik belakangan ini. Anxiety? Nggak ngerti juga ini indikasi apa. Gue jadi makin sering ngerasa bosen tapi nggak tahu harus melakukan apa buat ngehilangin kebosanan itu. Ketika gue coba ngelakuin hal tertentu untuk menghilangkan kebosanan itu, semua itu akan berujung membosankan.

Kalau hidup menjadi ribet begini, sebenernya salah siapa, ya Lord?

Karena motivasi gue ngeblog selain untuk merecord hidup gue adalah untuk menjernihkan pikiran, maka jadilah tulisan perkara keuring-uringan gue ini. 

Setelah setengah jam melakukan analisis pada diri sendiri yang sekali lagi gue tekankan akan sangat subjektif, di dapatlah beberapa point otentik tentang sifat gue, antara lain (P.S nya; tulisan ini bisa jadi pencitraan. Kacaan gue belum tentu sama dengan kacaan orang disekitar gue) ;

Self Focus

Being ISFP

November 25, 2017

Pembahasan tentang human interest selalu menarik perhatian gue. Sifat, emosi, cara seseorang mengambil keputusan, pertimbangan apa yang mereka pikirkan, value of life, sejauh mana hati seseorang bisa bertoleransi dengan rasa sakit dan apa pengaruhnya buat pola perilaku manusia itu sesuatu yang ajaib dan keren untuk dipelajari menurut gue.

Karena gue sering banget mempertanyakan pada diri gue sendiri,
"Kenapa gue harus bertingkah kayak gini?" 
"Kenapa harus gue yang berakhir kayak gini?"
"Kenapa gue nggak bisa kayak dia?"
"Kenapa ada yang namanya rasa sakit?"
"Kenapa ada orang yang begitu keras kepala dan selalu menganggap dirinya benar?"

Nanya gitu terus sepanjang hidup itu capek. Kadang gue pengen tahu juga apakah orang lain mengalami perang batin yang sama seperti gue atau enggak? Apakah mereka punya kontradiksi dari sifat mereka atau enggak?

Apa sebaiknya gue ngambil S2 Sosiologi atau Psikologi aja kali ya? -_-

Gue itu ISFP.
Introversion, Sensing, Feeling, Perceiving.
Salah satu dari enam belas kepribadian yang dikelompokan menurut MBTI. 
Gue ada di 5% golongan itu dari keseluruhan populasi manusia di muka bumi ini. Mungkin karena populasi ISFP yang cuma sedikit itu, jadi tidak banyak blog atau artikel yang membahasnya secara dalam.

If you meet someone who's cool but awkward at same moment, that person must be ISFP.

Daily

Mood Boosting!

January 14, 2015

Gue bahkan bela - belain ngisi salah satu quisioner online untu tahu kepribadian gue (special buat posting ini). Sebetulnya gue udah berkali - kali ngisi yang beginian, tapi biar kali ini lebih kongkit jadilah sengaja gue coba - cobain isi. Tes pertama terpampang jelas kalau gue itu PLEGMATIS, yang ini gue cuma senyum miris soalnya udah tahu dari dulu. Lalu di tes yang kedua gue dapet jawaban ISFP. Silahkan browse sendiri apa kepanjangannya. Populasi ISFP di dunia ini hanya 5 - 9%, masuk dalam golongan temperamen artisan. Karakter gue ini hampir sampa kayak komposer yang gue gilai, Mozart. Orang ISFP cenderung bukan bekerja dan hidup pada bidang - bidang eksak dan struktural. Sayangnya gue salah satu yang terdampar di dunia itu.

Gejala moody itu bagi gue cenderung untuk anak - anak labil yang nggak cukup dewasa untuk ngendaliin emosinya. For someone like me, yang terlahir dengan blood type A dan punya garis - garis yang sangat jelas, ditambah punya karakter Plegmatis campur Koleris, hal - hal semacem keterombang - ambingan emosi dan sebagainya jarang terjadi pada gue, justru orang tipe gue cenderung selalu menjaga kondisi agar tetap kondusif. Cuma masalahnya, belakangan ini gue sering ngalamin perang batin *ecieilah* dimana gue sering ngomong ke diri gue sendiri?
"Kenapa cuma gue yang harus bertingkah kayak gini?"