Bukan Power Ranger

November 05, 2017

Senin - Jum'at
06.30 - 07.30 Jadi tukang ojeg (Jakpus - Jakut)
07.30 - 15.00 Jadi tukang listrik
15.30 - 17.00 Jadi sopir AKAP (Jakut - Jaktim)
17.00 - 01.00 Jadi tukang obat
01.00 - 01.30 Perjalanan balik ke kosan (Jaktim - Jakpus)
01.30 - 05.30 Tidur kayak orang pingsan
06.30 - dst Kembali ke awal.

Sabtu - Minggu
00.00 - 00.00 Jadi Zombie -_-

Itu adalah daily routine gue selama sebulan kemarin. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan Oktober kemarin adalah : Babak belur. Physically and mentally.
Temen-temen gue di kantor bahkan nanya; "Pin lo baik-baik aja kan?"
Temen-temen gue di medsos juga menanyakan hal yang sama; "Pin, kapan tidurnya?"

Jawabannya; Alhamdulillah gue baik-baik saja dan masih bisa tidur dengan sangat nyenyak.

Ada beberapa orang yang nggak suka mendengar keluhan, tapi biarkan kali ini gue melakukannya. Bukan untuk mundur, tapi untuk mengumpulkan lagi energi yang telah menipis. Biarkan gue menghela nafas barang sejenak sembari merenggangkan otot untuk kembali berlari mengerjar ritme hidup yang sebelumnya kacau balau.

Mungkin sebagian orang sudah biasa hidup dengan ritme yang super ketat, tempo yang super cepat, mobilitas yang super tinggi dan waktu istirahat yang super kurang seperti yang gue lakukan di atas. Mungkin bagi beberapa orang itu sangat wajar bahkan kata Bung Karno "Dalam revolusi itu biasa.." tapi tidak teruntuk gue yang anakan Plegmatis. Mungkin pada dasarnya gue lebay, tapi untuk seorang plegma seperti gue, kami tidak begitu menyukai perubahan signifikan dalam hidup. Orang-orang seperti gue punya kecenderungan mehindari segala jenis konflik, eksternal maupun internal dalam diri mereka. Kami menjunjung tinggi pola hidup yang seimbang dan kondusif.

Ini semua bemula dengan beban kuliah di semester 7, dimana ada kewajiban untuk melakukan Kerja Praktik (KP). Percikan api mulai terjadi, ketika gue yang double timer sebagai pelajar dan pekerja nggak bisa seenak jidat bolos sebulan ninggalin kerjaan demi KP seolah tempat kerja gue perusahaan punya nenek gue.

Disinilah anak Plegmatis merasa berada di titik terendah mereka; ketika dia harus menghadapi siatuasi dimana terjadi gesekan dalam lingkungannya. Dalam kasus gue ini, konflik itu terjadi di dalam diri gue sendiri. Dari luarnya gue mungkin keliatan santai nggak punya beban, nikmatin hidup gue dengan riang suka cita, tapi kalau ditanya gimana kondisi pikiran gue saat itu, jawabannya; mess. Luar biasa awut-awutan kayak benang kusut. Isi kepala gue kacau balau nggak karuan yang satu lari ke tulang terngkorak sebelah mana yang lainnya nyusruk di otak sebelah mana gue nggak tahu lagi. Holding back itu keahlian kami tapi saat kami sudah sampai tahap nggak sanggup, anak-anak plegmatis yang biasanya pasif itu meledak.

Gue bukan anak yang suka ngeluh sebenernya.
"Telen aja. Hadapin aja. Toh hari berat itu nantinya bakalan berlalu dengan sendirinya," kayak gitu kurang lebih monolog yang gue lakuin ke diri gue sendiri selama ini. 

Tapi, untuk case yang satu ini, jujur, gue nggak bisa untuk nggak mengeluh terlebih dahulu, bahkan ketika perang pun belum dimulai gue udah berkoar di posting "rambling before the war" karena gue sendiri nggak ngerti kenapa gue harus menghadapi hal kayak gitu padahal gue bukan Power Ranger yang punya kekuatan super.

Meski dalam Revolusi itu biasa.
Meski di dunia ini bukan gue seorang yang ruwet isi kepalanya, biarkan gue bercerita sedikit.

KP - AUDIT - KERJA - PENELITIAN - KULIAH.

Gue selalu membenci audit.
Hidup gue memang selalu complicated tapi sebelumnya nggak pernah seruwet itu.

Kacau.
Ketika bangun tidur badan sumeng karena pulang kerja lewat tengah malem menerjang angin malam demi bisa istirahat di kosan.
Ketika setiap pagi harus bawa motor menghadapi kemacetan Senen dengan muka bengeup kurang tidur.
Ketika setiap sore gue harus fokus bawa motor cilik di antara truk-truk kontainer yang rodanya lebih tinggi dari gue.
Ketika tubuh gue dipaksa untuk beadaptasi dengan suhu kontras setiap harinya. Siang kepanasan karena hidup di pinggir laut dan malem menggigil di pojokan Lab kantor karena AC yang luar biasa dingin dan gue cuma seorang diri di lab segede itu.
Ketika badan gue ada di tempat KP tapi otak gue ada di kantor karena audit BPOM dan gue nggak punya backing-an kerjaan.
Ketika badan gue ada di tempat KP tapi dosen gue di kampus ngejar-ngejar hasil analisa.
Ketika gue di kejar deadline Semnastek disaat jadwal KP dan Kerja aja udah nggak keruan.

Pernah denger ini gak?
Kalau manusia itu punya kekuatan tersebulung dalam dirinya yang nggak pernah ia sendiri sadari.

Ketika orang lain berbicara soal limit.
Ketika orang lain berkata apa yang kita lakukan itu sudah sampai batasnya.
Ketika orang lain bilang itu hampir nggak mungkin. 

Selama ini gue percaya dengan adanya kekuatan itu tapi gue personally nggak pernah mengalaminya.
Dan.. pada akhirnya gue dibuat benar-benar percaya.
Pada akhirnya gue tahu kalau kekuatan semacam itu emang ada, entah selma ini bersembunyi dimana tapi dia benar-benar ada.

Gue babak belur. 
Habis. 
Physical and mentally.
Tapi ternyata gue berhasil keluar dari ring gulat itu..
Hidup-hidup.

"Wow.."

Gue nggak pernah tahu gue punya yang semacam itu.
Gue nggak pernah tahu kalau niat bisa bikin kekuatan itu muncul.
Ternyata gue sanggup.
Ternyata gue bisa melewatinya disaat gue sendiri meragukannya.

So..
Believe me,
We are not Power Ranger but we have that Super Power.

Regards,
Ranger F.
Yang KP nya Indonesia Power.

You Might Also Like

0 komentar

Comment