Book - Supernova 5 Gelombang by Dee

November 20, 2017

Karena semenjak tahun 2014 gue seolah kehilangan minat baca padahal gue beli buku ini di awal-awal perilisannya, bahkan gue udah beli seri selanjutnya Supernova#6 Inteligensi Embun Pagi yang sampai saat ini juga belum gue baca. Akhirnya setelah hampir tiga tahun teronggok nggak jelas di lemari kosan, gue terjerumus lagi ke dalam cerita perjalanan panjang Supernova yang berhasil gue tuntasnya buku kelimanya ini dalam waktu dua hari (kepotong-potong sambil ngerjain laporan KP -_-).

Telat banget emang gue nulis reviewan buku ini, apalagi buku ini telah genap sempurna tahun 2016 lalu karena IEP udah kelar yang artinya perjalanan Supernova telah tuntas. Tapi sebodo amat, gue mau bagi-bagi kerumitan di kepala gue setelah baca gelombang karena nggak bisa buru2 lanjut ke IEP, gue kudu mudik dulu buat ambil buku itu dan gue masih punya kesibukan lain yang lebih penting ketimbang ikut gila kayak Gio, jungkir-balik baca buku ini.

Sebelum baca perjalanan gue bersama Alfa Sagala di Buku Gelombang ini, ada baiknya ngintip sebentar review-an ala kadar seri Supernova sebelumnya yang pernah gue bikin biar sedikit nyambung BOOK – SUPERNOVA BY DEWI ‘DEE’ LESTARI.

23252584

Supernova #5 Gelombang
BUKU PALING HYPE DI TAHUN 2014. 
Gue peringatkan kalau post ini bakal penuh Spoiler. 
Gue bukan sekedar mau bagi rangkuman, tapi gue mau nebar klu, media nyari temen buat diajakin mikir. Take your own risk, guys~
Gue sempat baca beberapa review nya di Goodreads setelah tuntas baca, kagetnya, cukup banyak yang mengkritisi buku ini, cukup pahit dan cukup tidak beradab.

Dunia emang keras.
Banyak komentar nyakitin di Goodreads. Pembaca emang gitu sih, cuma bisa komentar. Lupa kalau penulis butuh riset panjang, nggak tahu kalau ngerangkai satu kalimat itu effortnya setengah mampus, seolah bikin buku itu kek masak nasi di magicom, yang penting ada beras, air, sama colokan listrik, jadilah yang nasi buat ngisi perut ngilangin laper. Untuk observasi, kritikan yang membangun memang sangat perlu, tapi terlepas dari semua itu menggunakan bahasa yang baik sudah barang tentu.

Sebagai penggemar Dee yang udah terlanjur nyebur ke dunia Dewi Lestari dari gue SMP, buku Dee udah gue hafal betul manis pahitnya. Gue udah hafal baunya dari novel dia yang sepopuler Perahu Kertas sampai kumpulan cerpennya di Rectoverso.

Supernova ini tumbuh besama bertumbuhan pembaca, bertahun-tahun pembaca dibuat menunggu seri demi seri. Karena tumbuh bersama itu, gue memaklumi adanya komentar nggak puas dibuku kelima ini seolah penantian penggemar Supernova tak dibayar sebanding oleh Dee dengan konten yang ia suguhkan melalui Gelombang. Supernova, di seri ke-5 ini mungkin sudah sampai pada tahap draggy, tahap yang memang jadi momok untuk para penulis buku seri.

Kalau masalah tidak suka, balik lagi ke masalah selera.
Gue akan menilai buku itu bagus atau tidak berdasarkan sejauh mana gue bisa immerse dengan cerita tersebut. Seperti gue yang menaruh KPBJ dan Partikel sebagai Seri Supernova terfavorit, banyak orang yang justru kurang interest dengan kisahnya Zarah, pakai acara nyebut penyuka Partikel sebai ABG labil yang kebanyakan baca Teenlit. -_- Balik lagi ke masalah selera aja sih.

OVERALL.. 
Menurut gue, Supernova 5 : Gelombang, ini tidak terlalu buruk tapi juga tidak terlampau bagus. 
Gue nggak punya masalah dan nggak ngerasa kecewa berat karena gue nggak berekspektasi apa-apa ke buku ini.

Gue mau berceritain buku ini secara konteks, bukan embel-embel sastra atau sains lainnya. Gue mau jadi anak innocent yang membiarkan diri larut dalam kisah para tokoh Supernova tanpa diganggu oleh masalah teknis. Sebodo amat sama alur yang banyak hole, plot yang mirip sama cerita sebelumnya, monoton, tokoh yang kayaknya saduran dari buku/fim lain, diksi yang biasa banget, atau apapun itu. 

Bicara soal, Alfa Sagala.
Gue suka-suka aja sama tokoh sentral disini yang kita kenal di awal buku dengan nama Inchong, anak bungsu keturunan Batak yang masa kecilnya ruwet banget sekaligus ngakak banget karena dia bisa masuk ke alam mimpi dan sulit keluar darisana. Karena perihal itu, dia dijadikan rebutan tetua di kampung dengan alasan yang Inchong sendiri nggak paham.

Kisah masa kecil Inchong yang mistis dan penuh misteri ini menjadi bayang-bayang bersama pertumbuhan Inchong, dari anak kecil innocent yang ga peduli apapun selain ngisi TTS, jadi remaja yang demen ngelap buku, sampai menjadi dewasa dan berubah nama mengjadi Alfa Sagala.

Alfa ini pinternya nggak ketulungan makanya dia bisa sekolah di Amrik. Cerita mulai seru saat Alfa tinggal di di Hoboken, daerah uzur yang tinggal menunggu rata dengan tanah, main kucing-kucingan dengan petugas imigran karena doi imigran gelap. Kuliah di Cornell Univ yang kece berkat kepinterannya (walau gak make sense sih kalau kependudukannya ilegal bisa kuliah di tempat prestigious begitu), dan berkat kenekatan dia, dia berhasil jadi trader sukses di Wall Street, padahal dia anak Teknik. Bertransformasilah si anak kampung jadi cowok metropolitan New York.

Seperti yang gue bilang; He just likes several human being. Nggak terlalu ajaib.

Yang aneh dari Alfa itu cuma karena dia punya insomnia kronis. Bukan sekedar insomnia sebenarnya, tapi ketakutan untuk tidur dalam waktu yang lama karena dalam tidurnya, Alfa akan bermimpi. Mimpi yang hampir selalu sama dan di dalam mimpi itu dia merasa dibunuh!

Semuanya berjalan asik sampai suatu hari buddies nya si Alfa; Troy dan Carlos, maksa Alfa untuk ikutan programnya NSA dan menggiring dia pada legendary one night stand bersama perempuan super cantik bernama Isthar. Dari sinilah mungkin tepatnya perjalanan Alfa dimulai. Sebenernya selama ini pun Alfa sudah melakukan perjalanan dan menerima kode-kode dari alam semesta tapi dia seolah mengabaikannya, menutup mata karena telalu banyak urusan dan target-taget duniawi yang perlu dia tuntaskan.

Kekacauan setelah pertemuannya dengan Isthar membuat Alfa bertemu dengan Nicky, cewek caur yang lebih cocok disebut mahasiswi ketimbang dokter yang Alfa kemui ketika dia panik karena bisa tidur sampai 5 jam. Pertemuan itu memulai babak baru dalam hidup Alfa. Ia menjadi salah satu pasien di Somniveerse atas rekomendasi Nicky, tempat semacam klinik yang mengatasi segala gangguan tidur. BARULAH DISINI sensasi khas membaca Supernova mulai terasa kembali, ketika sesuatu yang ilmiah dan magical harus bertubrukan, melebur jadi satu dan bikin gue pusing pala. Untuk seri Gelombang ini, sensasi seperti ini sangat terlambat muncul.

Dari, Somniveerse, petunjuk mulai bermunculan. Membawanya pada perjalanan selanjutnya menuju Tibet demi mencari Tokoh Kunci yang mengetahui masa lalunya melebihi siapapun! 

CLUE TERBESAR!
PETUNJUK PALING PENTING DARI SERI GELOMBANG: 
Sepeti yang gue duga, dimana ada misi, disitu ada peperangan. Sebagai pengikut setia supernova, AKHIRNYA!!!! banyak tanya yang terjawab diseri ini. Akhirnya kita diberitahu jika ada semacam war disini. Peperangan macam apa gue nggak tahu yang pasti itu terjadi antara tiga kubu; dalam Supernova disebut dengan Infiltrant, Peretas (Harbinger) dan Sarvara. Dan.. semua tokoh yang bersinggungan langsung dengan tokoh utama Supernova ini agaknya memiliki masing-masing kubunya.

Kesimpulan sementara setelah membaca Gelombang (BIG SPOILER!!)
Relasinya adalah ; Di buku Supernova #3 Petir, Etra sudah bertemu dengan Bodhi yang artinya Petir dan Akar sudah bertemu. Di buku Supernova #5 Gelombang, Alfa bertemu dengan Diva yang artinya Gelombang dan Bintang Jatuh sudah bertemu. Tinggal nunggu Zarah (Partikel), nggak tahu nanti dia gimana gabungnya.

Gue makin yakin kalau para Supernova ini semacam reinkarnasi, entah dalam bentuk apa mereka sebelumnya, sejenis Dewa mungkin, atau satu kesatuan yang terpecah jadi enam gugus karena teori dasar Supernova itukan ledakan, atau bisajadi mereka alien, mutan, makhluk astral lainnya, atau mungkin mereka ini justru cikal-bakal alam semesta, gue nggak tahu. Yang jelas, mereka punya misi misterius yang udah mereka rancang beribu-ribu tahun lalu untuk semesta raya ini. Nggak ngerti juga kenapa atau ada kejadian apa yang membuat mereka (Infiltrant, Harbinger dan Sarvara) sampe harus main kucing-kucingan kayak gini dan nggak paham gue kenapa para Harbinger memutuskan untuk melakukan perjalanan antar dimensi (apapulah itu namanya) yang membuat mereka terpisah, lalu kembali ke kehidupan sekarang untuk saling menemukan, tanpa mengingat apa atau siapa mereka di kehidupan sebelumnya.

Misi apa yang mereka emban? 
Faedah apa yang sebenernya jadi tujuan mereka?
Belum tahu. Mari baca IEP.

Sejauh ini, yang bisa gue simpulkan adalah, mereka punya tujuan yang sama yaitu, pergi ke Asko. Diva Si Bintang Jatuh yang hilang di KPBJ, yang bikin Gio kalang kabut nyariin dia sampe keujung dunia itu ternyata udah sampai di Asko duluan entah dengan cara apa. Alfa Si Gelombang pun sudah bisa tiba disana melalui mimpinya. Masalahnya, kapan anggota lainnya sampai? Bodhi dan Elektra mungkin akan tiba barengan karena mereka sudah bertemu.

Gue menduga kalau Gio itu salah satu Harbinger. Dia cukup spesial karena konsisten ada di setiap buku meski perannya belum signifikan, kerjaannya cuma nyariin Diva. Gue ada firasat Gio itu si Embun Pagi.

Relasi dengan seri sebelumnya.
Di Gelombang ini, benang merahnya mulai jelas keliatan antar satu buku dan buku lain.

Diva : Tokoh favorit gue di KPBJ muncuuuuuuul!!!! *sorak~ meski muncul hanya sekelebat dalam mimpinya Alfa tapi gue senaaang~ Kejanggalan yang Alfa rasakan sama dengan yang gue rasakan. Kenapa Si Bintang Jatuh yang justru muncul bukan yang lain? Kenapa Diva yang seolah jadi penjaga Asko dan paling tahu tentang semua hal termasuk anggota mereka yang lain? Teori yang bisa gue asumsikan saat ini adalah, Alfa-lah yang memprogram dan mendesign segala hal, termasuk menciptakan Asko. Dia yang bikin skenario besar, dia yang milih Bintang Jatuh untuk ada di Asko. Ini sih masih bingung, intinya Alfa itu kayak yang pegang kendali dan nge setting ini-itu buat para Harbinger lain tapi sayangnya dia sendiri hilang ingatan, dia cuma nyisain petunjuk-petunjuk melalui mimpi dan mimpi itu dia hindari -_-

Isthar : Sumpah -_- Gue sempat amnesia sesaat kalau dia ada di Akar.

Kell : INI SIH YANG PALING KLIMAKS!!! 
Gue be lyke : OH MY GOD!!!!!! KELL!!!! ALFA KETUMU KELL!! KELL yang kita ketahui sudah mati dan gue sedih luar biasa waktuitu nyatanya MASIH HIDUP!!! SO SO SO... APA SEBENERNYA YANG TERJADI SAMA KELL (?) tiba-tiba gue curiga dia Infiltran masa -_-

Komentar
Mungkin banyak orang yang tersihir sama ajaibnya Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh dan seri lainnya, ketika baca Gelombang kayak ada gap cukup jauh gitu. Gue pun merasa demikian, kurang semenantang buku lainnya, kurang thrilling tapi nggak sampai tahap gue pengen buang bukunya ke bak sampah. Buku ini emang paling ringan, konten sains-nya lebih sedikit jika dibanding buku lainnya. Percakapan keilmuannya juga kurang natural, nggak semengalir di Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh atau Partikel.

Perjalanan hidup Alfa itu medannya paling biasa. Lebih kayak perjalanan singkat mas-mas ganteng ke belahan bumi lain dengan cara gampang, pakai tour guide. Nggak kayak Akar dan Partikel yang kayak ekspedisi tak berkesudahan gitu.

Gue mau ngomong pahit nih. Kedalaman ceritanya menurun. Kurang smooth dan terkesan mentah. Kayak cuma baca outline bukan novel utuh. Gue baca di Kata Pengantar apa ya? Kalau Dee nulis tahun 2013 dan 2014 buku ini meluncur. Dee jelas ngejar target. Gue juga kaget sih karena cepet bener keluarnya, itu udah termasuk editing dan publising pastinya. Speed comes in a price, dude! Ga heran, mana ada yang bisa bikin buku bagus dalam waktu sesingkat itu, tebel pulak bukunya? Kayaknya gak ada, sih. Tapi, toh ini bukan buku terakhir. Masih ada harapan lah di buku penutup yang Nauzubillah tebel beneeeeer -_-

Jadi segi alur dan plotwist, Gelombang ini nggak semembahana yang lain. Cenderung biasa-banget. Tapi gue suka personality nya Alfa. Kayak relate-able di gue. Walau kecerdasan Zarah lebih unggul, Diva lebih canggih, Etra lebih nggak nanggung ngawurnya, tapi untuk beberapa alasan gue bisa meletakan Alfa di urutan favorit. Sederhananya karena di cowok, *plis pini -_- Walau ada Bodhi tapi untuk ukuran cowok dia terlalu melankolis kadang. Alfa, CAKEP ofc, itu sih yang digambarin sama Dee, dia cerdas dan gigih luar biasa. Dia lebih manusiawi, Bodhi, Etra dan Zarah yang terlalu ajaib. Alfa punya ambisi untuk sukses dan punya beban untuk ngebahagiain orang-orang disekitar apalagi keluarganya, beda sama Zarah yang kayak tutup mata sama keluarganya. Yang TERPENTING dari semua sifat itu, dia itu BITTER. Gue suka ke-bitteran dia dalam menanggapi semua hal, mencoba untuk realistis dan nggak mau menerima informasi gelondongan gitu aja. Maskulin sih sampe nggak bisa dibaca. Sifat dia ini bikin gue kadang nggak kenal dia. Masih ada dinding yang membatasi gue dan Alfa. Alfa kurang ekspresif, berbeda dengan Bodhi, Elektra dan Zarah yang emosinya luber, bikin gue ikut kebawa-bawa sama apa yang mereka rasain. Gue nggak ikut kasihan atau panik waktu Alfa mimpi dan meregang nyawa. Gue jadi kurang empati sama Alfa, nggak ada keterlibatan emosi Alfa dengan pembaca. Dingin, walau nanggung, kalah dingin dari Mpet. Lucu tapi kalah humor sama Elektra. Serius tapi ga seserius Diva, konyol tapi ga sampe tahap sablengnya Bodhi dan Kell. Serba nanggung. Dia punya pemistik dan optimistik sekaligus, terlalu banyak kontradiksi di diri dia. Dia kenal diri dia sendiri tapi kadang ga paham kebutuhan dia. Dia tahu cara terbaik menghadapi dia sendiri, walau kesannya kayak runaway. Meski dalam hidupnya banyak hal yang nggak logis terjadi, tapi Alfa itu selalu menuntut penjelasan logis dari semua yang terjadi sama dia, (ya walau ujung-ujungnya tetep aja ga bisa dikatakan logis juga). 

Sosok Jaga Portibi. Dari awal gue udah yakin dia itu bukan siapa-siapa melainkan diri Alfa sendiri. Alfa nih semacem parno duluan gitu sama Jaga Portibi, bikin mindset ke diri dia sendiri kalau Jaga Portibi itu menyeramkan. Padahal dari awal yang gue tahu, Alfa bukan orang yang pengecut2 amat, dia berani ambil chance kecil keberuntungan diantara seribu ketidakmungkinan, salah satunya masuk ke Cornell Univ dan kerja di somewhere in Wall Street,sama Tom padahal status dia di Amrik ilegal, tapi giliran ngadepin mimpi di tidur dia sendiri, dia kayak anak kucing diciprat air, ciut. Gue penasaran sama maksud mimpi dia dan pengennya Alfa ga usah berontak sama mimpi dia dan let it flow aja gitu karena disana pasti ada petunjuk besar. Tapi ya gimana lagi, namanya dia mimpi sambil meregang nyawa, ga bisa maksain juga. Dan bener aja praduga gue, itu semua emang program yang dia bikin sendiri, termasuk percobaan dia membunuh diri dia sendiri kayaknya emang skenario yang Alfa sendiri bikin di kehidupan sebelumnya sebagai akses untuk Alfa masuk. Nyusahin diri aja, Alf.

Seperti saat gue membaca seri sebelumnya, ada beberapa bagian dimana gue kesulitan membayangkan apa yang Dee deskripsikan. Gambaran gue tentang Antarabhawa dan Asko kayak nggak sempurna gitu di otak gue. Apalagi part ketika Alfa masuk ke dalam bangunan utama di ujung Asko (apa namanya gue lupa, yang bulet kayak organisme hidup itu), terus terhempas ke ruang keabadian. Harus nya itu jadi klimaks tapi gue ngerasa B aja karena feel nya nggak dapet. Gue nggak tegang, datar aja, yakin nanti dia juga bakalan bangun dari mimpi apalagi ada Nicky yang terus nemenin dia.

Soal banyaknya bahasa asing yang dicampur adukan dengan Bahasa Indonesia banyak dikeluhkan oleh pembaca, gue setuju kalau itu cukup mengganggu kenyamanan membaca buku ini. Menurut gue ada beberapa kalimat English atau bahasa lain yang masih bisa ditulis dengan Bahasa Indonesia saja. Mungkin juga sih, ini cara Dee untuk mengingatkan kita kalau setting si tokoh itu ada di luar negeri. Tapi ketika baca Partikel dan Akar yang juga banyak pakai setting di luar negeri, gue nggak merasa seterganggu ini.

Reveal kasus mimpinya Alfa kayak kurang tajam gitu. Momok dia yang takut tidur langsung sembuh gitu aja setelah dia terapi. Se simpel itu, Alf? Really?

Ritme awalnya enak, fluktuasi nya pas, tapi tiba-tiba kayak dijejelin kudu beres dalam waktu singkat saat Alfa di Tibet. Padahal ketika Alfa masih di Sianjur Mula-Mula, gue masih nyaman dengan ritmenya. Tapi pas di Tibet, astaga instant sekaly -_- Banyak peristiwa yang harusnya bisa dimasak lebih matang tapi Dee memilih jalan narasi sekilas, kayak nggak niat bikin buku. Menurut gue saat di Tibet itu harusnya meledak loooooh feelnya. Persetan sama Hobboken, wall street, lithium, semua tempat itu nggak ada korelasi sama fungsi Alfa sebagai Harbinger. Malah kesannya perjalanan di Tibet yang seharusnya jadi inti malah cuma pelengkap.

Di Tibet, gue makin berasa kehilangan Alfa. Bocah innocent yang pas mimpi basah jadi omongan orang sekampung, yang sering diperlakukan semena-mana sama abang-abangnya, tahu-tahu jadi orang paling nggak sabaran dan pengen semuanya serba cepet tanpa mau mikir rumit. Termasuk cara dia nyari Isthar lewar Redrigo, just lyke.. Duhit bisa membeli segalanya, Alf? OMG. Apakah uang tak lagi berharga dimata Alfa sampe dia rela bayar detektif mahal cuma buat nyari satu cewek? Atau mungkin karena Dee menggambarkan Alfa sebagai eksekutif muda yang tahu jelas cara pakai duit dia? Gue ga tahu tapi gue terganggu aja. Tibet ini setting klimaks, tapi yaudah gitu aja kebongkar semua tanpa effort apa-apa. Gue paham, Alfa udah ketemu sama Juru Kunci, Dr. Kalden yang emang tahu semua hal, tapi yaudah selesai. Nggak ada perjuangan Alfa untuk ketemu Dr Kalden itu selain minta cuti sama Tom dan lewatin gang bangkai Anjing busuk. Cuma semacam perjalanan wisata singkat ke Tibet, ga ada usaha lebih, semua karena keberuntungan Alfa untuk menuntaskan itu dengan begitu cepat dan biasa. Bukan petualangan panjang kayak di seri sebelumnya yang bikin gue sampe capek sendiri ngikutin mereka nyari petunjuk keliling dunia. Iya emang, ada ancaman Sarvara yang ngejar Alfa di Tibet makanya dia kudu cepet keluar darisana, tapi jadi semacam- hey, ini buku pondasi nya udah kuat tapi atapnya rapuh banget. Sayang banget sih disini.

Banyak sublot yang agaknya kurang penting. Salah satunya tentang lomba gitar Alfa di Lithium. Itu emang ngejelasin kalau Alfa itu capable to do many things tapi yaudah selesai gak ada faedahnya padahal gue kira kalau Alfa menang dan ikut tur band jebolan lithium, dia bakalan berpetualang apa kek yang lebih seru. *oke gue ngasal.

Ilmu Pengetahuan yang disuguhkan nggak semantap Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh atau Partikel. Minim banget malah. Unsur spiritualnya ga sekental di Akar, cuma diawal doang sempat dibahas banyak waktu Alfa masih kecil, tapi nggak yang dalem banget juga. Tapi berimbang dengan itu, mata rantai Supernova banyak tersambung di seri ini.

Gue menikmati setiap kalimat Nicky buat bikin Alfa annoyed -_- Alfa nggak narsis sih, tapi nih orang emang butuh temen ngomong yang sama kerasnya sama watak dia. Sayangnya Nicky ini kayak tokoh pelengkap yang di paksakan ada untuk nemenin Alfa, beda sama eksistensinya Kewoy dan Toni disisi Elektra atau Paul disamping Zarah. Nicky cuma laler.

Banyak yang bilang kalau diksi Dee di Supernova itu standar. Bukan mau membela Dee, tapi jangan baca Supernova kalau mau liat skill Dee nge-diksi.

Okeeeeeey...
Harapan gue tinggal pada Seri Pamungkasnya : Inteligensi Embun Pagi. Sampai bertemu disana PARA HARBINGER.

P.S gue bikin rangkuman ini sebelum baca IEP ya..
Gue gamau sama sekali ngintip review IEP -_-
Tunggu gue baca IEP dan gue akan bikin rangkuman yang lebih absurd.

Salam, agent Neptunus.

You Might Also Like

0 komentar

Comment