South Korea

Seoul Day 2 - Haneul Park

November 24, 2019


Sunday, 3rd of November 2019

Happy Sunday!!

Hari ini adalah hari pertama gue akan memulai serangkaian panjang city tour di negeri nya Kang Maru. Jadi rencana hari ini adalah gue bakal cabut ke destinasi yang bakal menguras tenaga karena tujuan gue hari ini adalah pergi ke Haneul Park yang artinya– naik-naik ke atas bukit buat liat pemandangan.

Setelah tidur cukup, hari itu gue cabut lumayan pagi, sekitar pukul 07.00 KST. Gue juga mulai paham kalau Seoul itu kota yang 'bangun' nya lebih telat kalau dibanding Indonesia. Misal di Indonesia, jam 5 pagi itu suara bising kendaraan udah mulai kedengaran, orang-orang udah mulai beraktifitas dan toko-toko satu persatu buka, sedangkan Seoul ini aktifitas signifikannya baru mulai berasa dikisaran jam 9 pagi.

Hari ini gue mencoba naik dari subway station yang berbeda, Hapjeong Station karena stasiun ini satu Line dengan stasiun tujuan gue; World Cup Stadium. Karena lokasi subway station nya nggak begitu jauh dari guesthouse, tentu aja gue jalan kaki menuju kesana dan.... dalam perjalanan menuju Hapjeong Station ini akhirnya gue merasakan  autumn vibes yang hari sebelumnya nggak berhasil gue rasakan. Pohon-pohon kuning!! Jujur gue heran banget kemarinnya karena dari awal dateng, dari gue keluar airport dan sepanjang perjalanan dari Incheon ke Hongdae itu bener-bener nggak ada suasana musim gugurnya, cuma suhu doang yang dingin. Bahkan di Yeouido juga gitu, pohon-pohon kebanyakan masih hijau sampai gue berfikir kalau saat itu belum masuk autumn foliage.

South Korea

Seoul Day 1 - Yeouido Hangang Park

November 21, 2019


Tujuan gue di hari pertama setelah mendarat di Seoul hanya pergi ke satu tempat; Yeouido untuk naik cruise.

Namanya hari pertama, harinya adaptasi, tentu nggak seru kalau nggak pake drama.

Jadi ceritanya gue udah beli tiket di Klook untuk naik cruise di Hangang, gue resevasi untuk jam 17.00 siapa tahu beruntung bisa ngeliat sunset sekalian. Gue sedikit nggak menyangka sebetulnya kalau naro koper dan bebenah sedikit itu ternyata makan waktu yang lama. Prediksi gue, tengah hari kita udah bisa cabut tapi ternyata menjelang sore kita baru jalan ke subway station. Sekitar pukul 16.00 gue baru naik subway gegara drama bolak-balik hongik station - sevel hongdae - hongik station perkara keblinger top up t-money, belum lagi drama t-money nggak bisa dipake tap in, belum lagi salah masuk Line subway.  Yasalam pokoknya perjuangan untuk ke Yeouido ini, mana kaki awak sampe lecet.

Kalau dari Hongik University Station, directions nya seperti ini:
- Dari Hongik University Station (Airport Railroad Line warna tosca) ambil ke arah Seoul Station,
- Turun di Gongdeok Station, 
- Transfer ke Line 5 (warna ungu) ke arah Banghwa
- Turun di Yeouinaru Station (Exit 3)

South Korea

Seoul Day 0

November 17, 2019

Sama sekali nggak ada niatan (belum ada) untuk jadi travel blogger soalnya nggak sering jalan-jalan juga, tapi termasuk orang yang exited sama yang namanya 'liburan'.


Lalu, kenapa Korea Selatan?
Sejarah nya itu panjang.
Jadi, walaupun gue emang suka K-Drama, tapi bukan dengan modal ngayal babu bisa ketemu oppa dan bukan karena motif ingin mengejar oppa lah makanya gue ke koriya. Bukan, bukan karena itu. Sebelum K-Pop menyerang, sebelum Blackpink jadi brand ambassador nya Shoope, dari jaman So Jisub masih jabrik dan sebelum Lee Minho jadi idola emak-emak, jauh sebelum itu gue emang udah SUKA NEGARA NYA. Gue suka culture nya, gue suka attitude mereka, gue suka bagaimana negara mereka improve dari negara yang biasa saja menjadi motor teknologi dunia, gue suka alamnya, gue suka city landscaping nya, dan masih banyak lagi yang bikin gue suka sama negara itu.

Experience

Pengalaman Membuat South Korea Visa

September 27, 2019

Pengalaman pertama gue apply visa ke luar negeri. Yey!
Tragisnya, udah pertama kali, gue melakukannya SENDIRI. Sekali lagi yeorobun, S-E-N-D-I-R-I *jomblo banget gaksi? Wkwkwk.. Maksudnya, tanpa bantuan travel agent ataupun jasa pembuatan visa.

Insyaallah gue berangkat tanggal 1 November 2019 bersama papap dan mamak uwe *ulalaaa~
Pertengahan Juli kemarin, gue chat trip organizer tentang pengurusan visa dan mereka bilang pengurusan visa akan dimulai bulan depan, yang berarti Agustus. Salahnya, sampai akhir Agustus gue sama sekali nggak cek email (soale memori handphone ogut yang super jadul itu penuh jadi email ga bisa masuk otomatis). Lalu di akhir Agustus, tepat di tanggal 30, waktu itu malem Senin, gue cek email dan ternyata Trip Orainzer udah email tentang syarat pengajuan visa dari tanggal 21 Agustus. Mereka siap bantu urus dengan syarat deadline pengumpulan berkas adalah tanggal 2 September.

KAGET DONG GUE~~ T_T
Nggak mungkin gue bisa ngurus ini-itu dalam waktu dua hari. Belum lagi semua berkas gue ada di Bogor dan gue stay di Jakarta. Belum lagi kudu ke bank yang gue yakin ga bisa sekali dateng langsung beres. Belum lagi banyak isu yang bilang kalau applied visa Korea Selatan itu super ribet dan bikin deg-degan parah karena banyak yang nggak di approved. Tapi mau gimana lagi? Dengan modal Bismillah, gue tekadkan untuk ngurus sendiri.


Kalau googling, sudah banyak blog yang membagi pengalaman yang sama, tapi disini gue mau cerita kondisi gue pribadi di minggu-minggu hectic ngurus visa, siapa tahu ada yang punya keadaan yang sama persis seperti gue saat mau mengajukan visa SK.

Berkas-berkas yang harus dikumpulin adalah, sbb :

Thought

Simple Living Intentions

August 17, 2019

Dua minggu lalu, sepulang dari Bandung, gue dan ibu gue melakukan salah satu kegiatan rutin di rumah; kerja bakti besar-besaran. Bagi gue, membersihkan rumah merupakan hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Dari serentet kegiatan itu, melakukan decluttering lemari pakaian adalah hal yang paling nggak gue suka. Bukan karena nggak mau/nggak ikhlas membuang baju-baju tak terpakai dari dalam lemari, tapi justru karena gue already getting sick melakukan decluttering baju. Setiap setengah tahun kami rutin memisahkan baju tak terpakai tapi setiap itu masih saja didapat berkarung-karung pakaian tak terpakai. 

Papah dan Mamah gue termasuk orang yang valuing something dari memori nya. Seperti gaun-gaun lucu waktu gue kecil, kebaya/kemeja dari jaman mereka kuliah, kamera lama, buku-buku jadul, belum lagi kalau beresin area rumahnya lain seperti kamar, ruang tamu, dan dapur. Akan semakin banyak barang yang sebetulnya hanya menuh-menuhi lemari tapi barang itu jarang digunakan (atau bahkan belum pernah digunakan sama sekali). Baju, sepatu, tas, alat tulis, tumpukan kaset/dvd, tupperware, kertas bekas, tumpukan koran/majalah, kabel-kabel, dll adalah barang-barang yang paling sering ditemukan saat kita melakukan decluttering. Nggak jarang kita juga bakal ngucap "Aku baru inget aku punya ini loh mah," kayak gitu saking banyaknya barang nya kita punya tapi kenyataannya barang yang kita pakai cuma yang itu-itu aja.

Dari situlah, gue ada intention untuk menerapkan konsep Minimal Living.

Kesannya memang ikut-ikutan doang, tapi selama konsep yang diterapkan itu memang positif dan nggak merugikan, so why not?


Tujuan utama gue mulai melakukan minimal living adalah untuk mengontrol diri agar tidak mudah terobesesi akan sesuatu terutama yang memiliki sifat kebendaan dan ujung dari minimal living yang mulanya diterapkan kepada benda/barang ini bisa membawa kita ke arah meyederhankan pikiran. Seperti yang selama ini gue sadari tentang diri sendiri, gue termasuk orang yang ini kepalanya totally mess, bukan over-thinker tapi terlalu banyak task yang perlu dicerna otak gue ini (bisa merujuk ke posting ini). Nah, menyederhanakan pikiran ini agaknya bisa membuat hidup kita lebih tenang dan bisa fokus pada tujuan-tujuan hidup yang lebih penting dan lebih bermakna. Selain itu cash flow kita juga pasti akan terpengaruh karena akan terhindar dari membeli barang-barang nggak guna. Mind conscious atau self-control itu bukan perkara gampang.